Badr-Interactive: Evaluasi Ibadah

Assalamu’alaikum wr.wb.

 

Jika tugas-tugas kuliah / organisasi / kerja tercatat dan termanajemen dengan rapi mengapa tidak dengan suatu daya upaya yang jelas menuju kepada-Nya? Seberapa baik ibadah kita dan seberapa terjaga evaluasi-evaluasi kita pada penghambaan kepada-Nya?

Di awal tahun baru 2012 ini, resolusi selalu kita rencanakan, dan mari resolusikan juga ibadahmu karena kini Badr Interactive kembali menyajikan sebuah aplikasi baru untuk mengevaluasi ibadahmu: Evaluasi Ibadah

Dapatkan aplikasi ini free di Android Market: https://market.android.com/details?id=com.bi.mutabaah

Tahun baru, mari tingkatkan ibadah, tentukan targetmu! 🙂

Advertisements

Jangan Sampai Hanya Awalnya Saja Karena Allah

Beramal itu seperti petani yang sedang menanam padi. Setiap seorang petani menanamkan satu bibit padi di ladangnya maka ia seperti seorang muslim yang sedang menanam kebaikan. Seorang petani akan terus merawat padi-padinya hingga besar dengan tujuan dan harapan yang satu, yaitu mendapatkan butir-butir beras yang unggul. Petani ini akan menjaga dan merawat padinya hingga musim panen tiba. Di kala musim panen tiba bahagialah ia karena butir-butir beras itu akan begitu berkilau indah di matanya karena harap dan tujuannya telah tercapai.

Dalam perjalanan merawat dan membesarkan padi-padinya, seorang petani juga bisa memelihara belut di sawahnya hingga akhirnya ia mendapatkan dua keuntungan dari ladangnya, yaitu padi dan belut. Namun, di sinilah tantangan seorang petani, apakah ia sanggup tetap fokus pada harap dan tujuannya untuk melihat butir-butir beras yang berkilau atau fokusnya akan teralihkan pada belut-belut yang ia pelihara. Jika saja fokusnya tetap pada padi-padinya maka ketika masa panen tiba ia akan fokus untuk memetik padi-padinya dan sesekali mendapatkan belut yang ada di sekelilingnya. Namun, jika fokusnya beralih pada belut maka saat masa panen tiba ia akan menyibak-nyibak sawahnya dan memanen banyak belut. Lalu bagaimana dengan padinya? Ya, jelas padinya akan mati dan hancur terinjak-injak.

Begitulah seorang muslim, ia dapat beramal kapanpun karena ladang amal terhampar dengan luas di hadapannya. Ia tinggal butuh kemauan untuk masuk dan berkecimpung dalam ladang amal tersebut. Di sana ia bisa menanamkan begitu banyak bibit kebaikan. Kemudian ia akan merawatnya, membesarkannya, dan berharap pada tujuan yang satu, yaitu Allah swt meridhoi segala apa yang ia perbuat. Namun, di tengah perjalanannya merawat bibit-bibit kebaikan tadi, Allah swt ingin tau seberapa besar kesungguhannya dalam mencintai Rabb-nya. Mungkin Allah akan memberinya banyak peluang ‘nikmat sampingan’. Seorang da’i yang pandai berbicara akan diberikan nikmat manusiawi berupa tampilan wajah-wajah yang tersentuh hatinya karena apa yang ia sampaikan. Seorang da’i yang punya segudang prestasi akan diberikan nikmat manusiawi berupa perbincangan-perbincangan orang tentang kehebatan dirinya serta wajah-wajah yang terpukau akan keluarbiasaannya. Seorang da’i lain yang begitu merdu suaranya akan diberikan nikmat manusiawi berupa mahluk-mahluk Allah yang ‘kesengsem’ dengan indah suaranya. Jika saja seorang da’i teralihkan fokusnya pada nikmat-nikmat sampingan tadi, jadilah ia seperti seorang petani yang menghancurkan padi-padinya demi beberapa ekor belut. Dan seorang da’i, mungkin dia akan menginjak dan menghancurkan nama Allah demi sebuah ketenaran, perbincangan hebat tentang dirinya, dan manusia-manusia yang kesengsem. Dan dalam hatinya, mungkin nama Allah tidak akan lagi menggema lebih hebat daripada pujian-pujian tentang dirinya.

Jangan sampai hanya awalnya saja karena Allah namun akhirnya tanpa terasa kita telah berkubang dalam buaian-buaian dunia.

2010 in review

Awal tahun 2010 kemarin sepertinya wordpress mengirimkan apresiasi ke seluruh penggunanya untuk membuat mereka tetap bertahan menggunakan wordpress. Dan sepertinya ini merupakan strategi yang cukup baik dari wordpress karena telah terbukti seorang bernama big zaman yang telah berbulan-bulan tidak menulis kembali menulis setelah mendapat kiriman email “2010 in review” dari wordpress. hehe..

Alhamdulillah blog saya masih ada yang mengunjungi selama tahun 2010, meskipun tidak sebanyak blog-nya big tapi paling tidak beberapa pengunjung yang ke blog saya karena sedang searching “topan bayu kusuma” jadi mereka tidak salah berkunjung, tidak seperti blog-nya big yang sebagian orang berkunjung karena mencari mesin cuci, padahal big zaman dengan mesin cuci dua mahluk yang berbeda. 😛

(@big zaman: no offense) 😛

——————————————————————————————————————————————-

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow.

Crunchy numbers

Featured image

A helper monkey made this abstract painting, inspired by your stats.

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 2,700 times in 2010. That’s about 6 full 747s.

In 2010, there were 14 new posts, growing the total archive of this blog to 32 posts. There were 7 pictures uploaded, taking up a total of 374kb.

The busiest day of the year was December 17th with 53 views. The most popular post that day was 4,5.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were akhwatfun.byethost7.com, bigza.wordpress.com, zanazahra.blogspot.com, adekurniawati.wordpress.com, and senjaya.net.

Some visitors came searching, mostly for topan bayu kusuma, topan, pengertian angin topan, topan bayu, and inasa kamila.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

4,5 December 2010
15 comments

2

Malam Minggu yang Dinanti February 2010
7 comments

3

Carilah Istri yang Bisa Menjadi Seorang Ibu September 2010
15 comments

4

Ni yang namanya Topan.. March 2008
15 comments

5

Tak Semudah Itu, Cinta.. January 2010
12 comments

———————————————————————————————————————————————–

Terimakasih kepada semua yang masih mau berkunjung ke blog saya, semoga Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk terus menulis. 🙂

Perbincangan Lepas Maghrib

Baru saja menyelesaikan beberapa lembar al Qur’an di masjid kampus ini, Masjid Ukhuwah Islamiyah, kampus UI Depok. Kewajiban di kampus hari ini sudah selesai, waktu juga sudah menunjukkan pukul 18.50, segera bergegas pulang agar bisa menyempatkan sholat Isya di mushola dekat rumah. Momen-momen untuk sholat berjama’ah di lingkungan rumah memang menjadi momen yang penting, paling tidak di sini bisa jadi waktu bagi saya untuk menampakkan wajah ke masyarakat RT 002 RW 09 karena kalau siang hari pasti jarang di rumah. 🙂

Satu kaos kaki sudah terpasangkan di satu kaki sampai kemudian sebuah suara menegur, “Dek, besok ada Aa Gym di sini?”

“Iya Pak”, jawab saya singkat. Tapi sepertinya Bapak ini tidak ingin hanya sekedar bertanya.

Benar saja, pertanyaan-pertanyaan berikutnya muncul, perbincangan terus berlanjut. Sepasang sepatu yang sudah terpasangkan rapi di kaki tak jadi gegas melangkah, kini hanya duduk mendengarkan cerita si Bapak. Saya pikir ini bentuk rasa hormat, dan sepertinya Bapak ini sedang butuh teman berbincang jadi saya luangkan waktu saya untuk berbincang dengan si Bapak.

“Tinggal di mana Dek?”

“Saya tinggal di daerah Cijantung Pak”, mudah saja saya jawab walaupun sebenarnya rumah saya di Kalisari, tapi saya lebih sering menjawab di daerah Cijantung karena kalau dibilang Kalisari biasanya orang tidak tau.

“Di sebelah mananya?”, tanya si Bapak lagi.

“Di deket SMA 98”, jawab saya singkat sambil terus menunjukkan wajah ramah kepada si Bapak.

“Oo.. di Kelurahan Baru ya, eh itu daerah Kalisari”, si Bapak ternyata langsung menimpali.

Ternyata Bapak ini tau daerah Kalisari, Luar Biasa! Penasaran saya, bertanya saja saya sama si Bapak, “Emang Bapak tinggalnya di mana Pak?”

“Saya tinggal di Bandung”, jawab si Bapak.

Nah lo, si Bapak tinggal di Bandung tapi bisa tau daerah Kalisari. Tapi setelah ditanyai lebih lanjut ternyata Bapak ini dulunya sekolah di SMA 39 (ada di daerah Kopasus, Cijantung) dan rumahnya pun di sekitar situ. Pantas saja si Bapak tau.

Perbincangan pun masih berlanjut dan saya pun jadi terlanjur tertarik untuk berbincang dengan si Bapak. Kenapa bisa Bapak ini ada di Depok padahal Rumahnya di Bandung? Ternyata Bapak ini baru saja bekerja di Vila Kalisari (perumahan di sekitar Kalisari), tapi lebih tepatnya baru saja ditipu orang untuk bekerja di Vila Kalisari.

“Hmm..”, saya sedikit berekspresi empati mendengar penuturan si Bapak yang baru saja ditipu. Sebenarnya ekspresinya bercampur bingung karena tidak terlalu paham dengan cerita si Bapak, tapi untuk menghormati apa yang sudah diceritakan si Bapak jadi saya tidak bertanya ulang mengenai ceritanya.

Di luar dugaan Bapak ini ternyata bisa membaca raut wajah saya hingga kemudian bertanya, “Ngerti gak ceritanya?”

Hehe.., dalam hati saya cuma bisa cengar-cengir, ternyata wajah saya gak bisa bohong.

Si Bapak pun menceritakan kembali kisahnya tanpa saya minta. Sudah satu pekan ini beliau di Jakarta, ada seorang temannya yang menawari pekerjaan untuk merenovasi rumah di daerah Vila Kalisari, katanya akan dibayar 14 juta rupiah tapi temannya ini minta bagian 3 juta rupiah. Jadilah si Bapak yang bekerja dalam tim bersama 7 orang lainnya menerima pekerjaan ini. Dan di awal si Bapak dan timnya patungan 3 juta rupiah untuk diberikan kepada temannya yang telah memberikan pekerjaan dengan keyakinan setelah pekerjaan selesai mereka akan mendapatkan uang sebesar 14 juta rupiah. Hari pertama sampai ketiga temannya si Bapak yang menawari pekerjaan masih memantau pekerjaan si Bapak tapi pada hari selanjutnya sampai hari ketujuh temannya sudah tidak pernah datang. Dan di hari ketujuh inilah semuanya terbongkar. Ketika semua cat rumah sudah dikerok, siap-siap direnovasi, datanglah seseorang yang marah-marah kepada si Bapak, ternyata orang yang marah-marah ini pemiliki asli rumah ini. Dia tidak pernah merasa meminta orang untuk merenovasi rumahnya bahkan rumah ini sebenarnya mau dijual tapi sekarang kondisinya malah mengenaskan karena cat dindingnya sudah dikelotok. Bingunglah si Bapak dan mulai sadar bahwa ternyata dirinya sudah ditipu oleh temannya yang menawari pekerjaan. 14 juta tidak jadi didapat dan 3 juta pun telah melayang. Jadilah si Bapak dan timnya luntang lantung di Depok dengan uang yang semakin menipis.

Sampai pada si Bapak selesai menceritakan ini dan menunjukkan dirinya sekarang hanya punya uang 7 ribu rupiah yang sangat tidak mencukupi untuk pulang ke Bandung, ditambah dirinya mengidap pembengkakkan jantung yang sewaktu-waktu bisa kambuh, bahkan sampai ditunjukkan kepada saya obat-obatannya, saya khawatir sebenarnya saya yang hendak ditipu oleh si Bapak. Maklum saja, di Jakarta dan Depok banyak kasus orang yang menghampiri orang lain dengan menceritakan kemelasan hidupnya kemudian meminta uang untuk menambal kemelasan hidupnya tadi. Dan saya sudah pernah menghadapi kasus ini beberapa kali, bisa lihat tulisan saya yang berjudul “Sudah Terkikiskah Rasa Saling Percaya?”.

Perbincangan masih terus berlanjut, si Bapak mulai menceritakan kehidupannya, dan hati saya mulai bimbang apakah setelah ini si Bapak akan meminta kemurahan hati saya atau tidak. Ya, bimbang, karena kalau saya mau menyamakan si Bapak dengan “penipu-penipu” sebelumnya, penampilannya sangat beda, pakaiannya rapi dan tas yang dikenakannya pun bukan tas murahan. Gaya bicaranya pun tidak seperti orang yang sedang menunjukkan kemelasan hidup, tidak disedih-sedihkan atau dimuram-muramkan, si Bapak bercerita dengan sesekali tersenyum dan menertawai kejadian yang menimpa hidupnya, santai sekali si Bapak ini bercerita. Saya pun hanya bisa menjaga husnudzon saya pada si Bapak.

Nyaman sekali sepertinya si Bapak menceritakan hidupnya kepada saya. Mulai dari kuliahnya dahulu sampai dengan keluarganya sekarang. Ternyata si Bapak dulu kuliah di Universitas Parahiyangan Bandung, Jurusan Teologi. Awalnya saya tidak mengerti teologi belajar apa, saya pikir mirip dengan geologi tapi ternyata berbeda jauh. Buat yang belum tau, teologi itu jurusan yang mempelajari perbandingan agama, dan karena Universitas Parahiyangan adalah universitas Katolik maka agama yang dibandingkan adalah agama Katolik dengan agama lainnya. Mengetahui teologi adalah jurusan yang mempelajari hal seperti itu, saya kembali bingung. Saya bertemu dengan orang yang sedang beristirahat di masjid yang kemungkinan besar adalah seorang muslim tapi ternyata dahulu kuliah di jurusan teologi. Tanpa diminta lagi si Bapak pun memberitahu kalau dirinya seorang mualaf sejak tahun 2003 karena kuliah teologinya ternyata membawa beliau untuk mempelajari Islam lebih jauh dan kemudian memutuskan untuk mengislamkan dirinya. Subhanallah, hidayah Allah memang bisa datang kepada siapapun.

Begitulah cerita terus berlanjut. Bercerita juga si Bapak mengenai awal mula beliau terkena pembengkakkan jantung kemudian ditolong oleh Yayasan Percikan Iman yang dikelola oleh Ust. Aam Amirudin di Bandung, bahkan sampai dibiayai kehidupan diri dan keluarganya selama 8 bulan. Bercerita juga si Bapak mengenai 3 orang anaknya, atau tentang bagaimana kisah perjalanan kehidupan si Bapak dengan istrinya.

Beberapa menit lagi adzan Isya akan berkumandang, sudah banyak cerita yang diungkapkan si Bapak, bahkan sampai bajunya yang rangkap 4 dan celananya yang rangkap 2 juga dia ceritakan, pakaian rangkap itu imbas dari pembengkakan jantungnya. Pada titik ini ternyata kewaspadaan saya belum terbukti karena si Bapak sama sekali tidak meminta kemurahan hati saya untuk memberinya beberapa lembar rupiah, bahkan sampai adzan berkumandang pun tidak ada ucapan yang menyinggung tentang itu. Kami pun bergegas sholat Isya.

Lepas dari perbincangan ini saya mulai berpikir untuk memberi bekal kepada si Bapak untuk pulang ke Bandung walau si Bapak tidak pernah meminta. Coba cek saku celana sebelah kanan ternyata ada recehan, coba cek dompet, ternyata tebalnya dompet saya hanya diisi oleh berbagai macam jenis kartu, tidak ada sepersen uang pun yang berada di dompet. Tinggal satu sumber uang saya, di saku celana sebelah kiri masih ada amplop pemberian waktu mengisi materi di Pesantern Kilat SMP As Salam. Saya tau di dalam amplop itu masih ada uangnya, tapi… sepertinya terlalu besar jumlahnya. Apa baiknya uangnya dipecah dulu? Ditukarkan dengan beberapa teman yang masih ada di MUI? Saya rogoh saku celana saya dan saya ambil amplopnya. Ahh.. Ternyata amplopnya dilem, sepertinya terlalu bodoh kalau untuk berinfaq saya harus mensyaratkannya dengan berbagai macam hal aneh, sampai harus mengupas lem yang ada di amplop, mencari-cari orang yang mau ditukarkan uangnya, jika seperti ini niatnya keburu berubah. Ya, mungkin ini cara unik dari Allah untuk ‘memaksa’ hambanya beramal lebih, dengan mengosongkan dompet, menyisakan receh di saku celana sebelah kanan, dan hanya menyisakan sebuah amplop di saku celana yang lainnya.

Bismillah. Saya cari posisi si Bapak, beliau sudah berdiri dan bersiap beranjak pergi, saya pun segera menghampirinya, sesaat kemudian menegurnya dari belakang, sebagaimana di awal si Bapak menegur saya ketika sedang mengenakan sepatu. Tak banyak bicara, amplop pun kini berpindah tangan.

“Semoga Allah membalasnya Dek..”

Aamiin, dalam hati saya berujar dan tersenyum.

“Nama adek siapa?”, tanya si Bapak sejenak melanjutkkan.

“Topan Pak..”

Hehe.. Ternyata kebiasaan yang satu ini belum berubah, berbincang panjang dengan orang asing tapi lupa memulainya dengan perkenalan hingga sampai akhir pun saya tidak tau nama si Bapak, padahal di buku “Bagaimana Menyentuh Hati” mengingat nama orang dalam sebuah perkenalan adalah hal yang penting. Mudah-mudah lain kali bisa memulainya denga perkenalan. 🙂

Semoga ada hikmah yang bisa diambil dari cerita ini.

 

*redaksi perbincangan tidak 100% tepat dengan aslinya

Senja Penuh Hujan

Jika hujan harus jatuh pada senja kali ini, maka tumpahkanlah saja semuanya agar esok pagi langit dapat mebiru dengan sebiru-birunya..

Jika haru biru pun harus membuncah pada jingga sore ini, maka tumpahkanlah saja warnanya hingga esok akan ada corak baru yang mewarnai bumi..

Memang seperti itu mungkin senja kali ini, penuh hujan, bahkan badai. Kadang terasa terlalu keras badai ini hingga pepohonan itupun mulai terlihat rapuh akarnya. Tapi yakinlah jika badai ini telah terlewati maka lihatlah pepohonan itu esok akan memiliki akar yang semakin kokoh, dan biarkan saja senja kali ini penuh hujan agar esok pagi langit bisa membiru dengan sebiru-birunya. 🙂