Mukena Untuk Ibu

Dua bulan sebelum Ibu meminta dibawakan jilbab dan baju lengan panjang ke rumah sakit adalah dua bulan sebelum Ibu kembali pada-Nya. Dua bulan sebelum Ibu meminta dimasakkan sayur asam, makanan kesukaannya, adalah dua bulan sebelum saat terakhir saya memeluknya. Dua bulan sebelum itu, saya bersikeras agar Ibu tetap sholat meskipun tanpa mukena, meskipun kata Ibu badannya bau karena berkeringat.
Saat itu, Ibu kembali tertidur di ranjang rumah sakit dalam kondisi lemah karena gula darahnya turun drastis setelah malamnya setengah sadar atau bahkan tidak sadarkan diri di rumah. Saat itu, yang saya tau sholat itu wajib dan saya mau Ibu sholat dalam kondisi apapun, meskipun tanpa mukena. Karena menit-menit sebelum itu saya sudah lelah berdebat panjang dengan seorang penjaga masjid rumah sakit yang tidak mau sekedar meminjamkan mukena saja, nanti hilang katanya. Saya berusaha paham dan sangat paham tapi saya tidak tau sebenarnya mana yang lebih penting, menjaga mukena agar tidak hilang atau meminjamkan mukena untuk menyelamatkan seseorang agar tetap bisa sholat.
Sarung. Hanya itu yang ada di dekat Ibu. Jadilah saya meminta Ibu untuk menjadikan sarung disampingnya sebagai mukena, dan jadilah saat itu Ibu sholat menggunakan sarung untuk menutupi kepalanya karena saya tidak berhasil menemukan mukena untuk Ibu.

***

Dua bulan berlalu setelah saya berdebat panjang dengan seorang penjaga masjid. Dan saat itu begitu senangnya saya ketika Ibu meminta dibawakan mukena ke rumah sakit karena mukenanya kotor terkena muntahannya. Oh iya, saat itu adalah keempat kalinya Ibu masuk rumah sakit dalam waktu satu tahun, kali ini Ibu dirawat di ruang HCU (semacam ICU) dan yang boleh menjaga hanya perawat rumah sakit, keluarga menunggu di luar ruangan dan hanya boleh sesekali masuk. Pada saat saya tau Ibu meminta dibawakan mukena, saya sudah terlanjur di kampus. Satu tempat di kampus yang saat itu saya ingat ada mukena baru dan bersih adalah sekretariat SALAM UI di Pusgiwa. SMS pun terkirim ke korwat Mentari SALAM UI, sekedar untuk izin saya meminjam satu buah mukena untuk dibawa pergi. Alhamdulillah boleh..
Beberapa hari setelahnya, Ibu bersikeras meminta pulang, dan saya tau memang seperti itulah Ibu. Meskipun masih banyak kabel menempel di tubuhnya, Ibu bilang ia sudah merasa lebih sehat dan mau pulang. Padahal saya tau untuk makan pun Ibu masih menggunakan selang yang dimasukkan melalui hidungnya. Bapak pun tidak bisa menolak keinginan Ibu.
Hari itu, 20 Oktober 2011, pagi hari sebelum saya berangkat ke rumah sakit, Bapak berpesan bahwa Ibu meminta dibawakan jilbab dan baju lengan panjang. Ibu pun juga meminta untuk dimasakkan sayur asam. Semua permintaannya saya jalankan.
Di rumah sakit, pagi itu, segala hal yang berkaitan dengan administrasi segera diselesaikan agar Ibu bisa pulang. Ibu meminta jilbab dikenakan di kepalanya sebelum keluar dari ruangan, saya dan perawat pun membantu memakaikannya walaupun tidak terlalu rapi. Saat itu saya senang karena tanpa harus saya membujuknya, Ibu sendiri yang meminta dipakaikan jilbab. Kursi roda pun  mengantarkan Ibu sampai ke mobil, Ibu ditidurkan di kursi tengah dan saya juga berada di sana untuk menjaganya.
Saat itu, di dalam mobil, kata Ibu nafasnya sesak dan beliau ingin duduk. Saya pun bantu mendudukkannya kemudian menyandarkan badannya ke saya sembari setengah memeluknya. Saat itu, saya hanya bisa berkata, “sabar ya, nanti Topan beliin oksigen..”. Meskipun saya tau hari itu hari Kamis, dan setiap Kamis sore ada KKI SALAM UI. Yang terpikirkan saat itu, begitu sampai di rumah saya akan segera mencari oksigen dan mengabarkan ke teman-teman di SALAM UI bahwa saya tidak bisa hadir KKI karena saya harus mencarikan oksigen untuk Ibu.
Sampai di rumah nafas Ibu semakin sesak, saya segera sedikit berlari ke luar rumah, entah tiba-tiba ada saja yang memberikan saya kunci motor dan entah juga motor siapa yang saya gunakan. Yang jelas saya membawa motor itu melaju ke puskesmas, mencari oksigen tujuannya. Setelahnya, saya hanya tersenyum ke petugas puskesmas karena saya tidak berhasil mendapatkan oksigen dari sana dan tidak tau lagi harus mencari oksigen ke sana dalam waktu yang tidak banyak. Saya memutuskan kembali ke rumah dengan harapan ada orang lain yang sudah mendapatkan oksigen.
Sejenak motor saya parkir dan matikan. Suasana rumah sudah berbeda, banyak orang luar masuk ke dalam rumah. Saya hanya berusaha memperbanyak prasangka baik pada-Nya. Saya hanya terus melangkah ke dalam rumah, tidak mempedulikan orang-orang di sekitar saya, tidak mau bertanya atau menegur mereka. Di dalam rumah saya pun mendapati Bapak sudah menangis, dan saya tau saya tidak boleh menangis, saya hanya memeluk dan menenangkannya sebelum akhirnya masuk ke kamar dan mencium kening Ibu meskipun saya tau saat itu Ibu sudah tidak bisa merasakan kecupan saya di keningnya. Saya tau, setelah ini saya tidak bisa lagi menyandarkan badan saya ke Ibu ketika saya lelah, dan saya pun tidak akan pernah lagi mendengar suara Ibu yang meminta dipijat punggung atau bahunya karena lelah seharian mengerjakan pekerjaan dapur. Tapi saya tau, inilah cara Allah mengabulkan doa saya. Saya selalu berdoa agar Dia segera mengangkat penyakitnya. Dan benar, pada hari itu Dia angkat penyakitnya namun beserta dengan ruhnya. Saya ikhlas.
Hari itu hari Kamis, jadwal KKI. Saya tidak jadi mengirimkan kabar bahwa saya tidak dapat hadir KKI sore itu, saya memberi kabar yang lain ke teman-teman di SALAM UI dan memang seperti itulah kabar saya. Berharap dengan itu mereka tau dan paham jika sore nanti saya tidak hadir KKI.

***

Tanggal 20 Oktober 2011 adalah 2 hari kemarin, karena tertanggal 22 Oktober 2011, di mana pada saat itu saya sudah menjejakkan kaki di bandara Soekarno Hatta. Satu hari sebelum itu saya ada di tengah selatan pulau Jawa, mengantarkan Ibu sampai ke liang lahat. Singkat dan cepat. Apa yang harus saya lakukan tanggal 22 Oktober ini pun harus tetap saya lakukan. Ini sebuah kebaikan, dan bagi saya kebaikan itu tak boleh berhenti, ia harus tetap berjalan. Dan mungkin inilah hikmah yang Allah berikan. Allah memberikan saya ruang di SALAM UI, dan melalui inilah saya terus berbuat kebaikan dari satu titik ke titik lainnya. Dan ini mungkin cara Allah, melalui kuasa-Nya juga hanya selang satu hari setelah tanggal 20 Oktober itu, sebuah kebaikan menghantarkan saya ke Thailand. Dan saya yakin, ini cara Allah untuk mencegah saya bersedih terlalu lama dan ini cara Allah untuk tetap menghantarkan saya dari satu kebaikan menuju kebaikan lainnya. Dan saya tau bahwa saya harus terus berbuat baik.

***

Dan hari ini, saya masih mau terus berbuat baik untuk Ibu. Tidak hanya sekedar mencarikan mukena atau oksigen untuknya. Hari ini, saya hanya ingin menjadi anak sholeh yang terus mendoakannya hingga nanti suatu saat tak bisa lagi doa saya lantunkan. Dan sampai pada saat itu, saya masih sama, saya masih anak dari Ibu saya, masih tetap sebagai anak sholeh dari Ibu saya.

Lakukan saja kebaikan yang bisa kita lakukan sekarang kemudian biarkan saja Allah yang melanjutkan sekenario cerita kehidupan kita selanjutnya. Tentang kita, Bapak, Ibu, dan semua yang ada di sekitar kita, teruslah berbuat baik.

Perbincangan Lepas Maghrib

Baru saja menyelesaikan beberapa lembar al Qur’an di masjid kampus ini, Masjid Ukhuwah Islamiyah, kampus UI Depok. Kewajiban di kampus hari ini sudah selesai, waktu juga sudah menunjukkan pukul 18.50, segera bergegas pulang agar bisa menyempatkan sholat Isya di mushola dekat rumah. Momen-momen untuk sholat berjama’ah di lingkungan rumah memang menjadi momen yang penting, paling tidak di sini bisa jadi waktu bagi saya untuk menampakkan wajah ke masyarakat RT 002 RW 09 karena kalau siang hari pasti jarang di rumah. 🙂

Satu kaos kaki sudah terpasangkan di satu kaki sampai kemudian sebuah suara menegur, “Dek, besok ada Aa Gym di sini?”

“Iya Pak”, jawab saya singkat. Tapi sepertinya Bapak ini tidak ingin hanya sekedar bertanya.

Benar saja, pertanyaan-pertanyaan berikutnya muncul, perbincangan terus berlanjut. Sepasang sepatu yang sudah terpasangkan rapi di kaki tak jadi gegas melangkah, kini hanya duduk mendengarkan cerita si Bapak. Saya pikir ini bentuk rasa hormat, dan sepertinya Bapak ini sedang butuh teman berbincang jadi saya luangkan waktu saya untuk berbincang dengan si Bapak.

“Tinggal di mana Dek?”

“Saya tinggal di daerah Cijantung Pak”, mudah saja saya jawab walaupun sebenarnya rumah saya di Kalisari, tapi saya lebih sering menjawab di daerah Cijantung karena kalau dibilang Kalisari biasanya orang tidak tau.

“Di sebelah mananya?”, tanya si Bapak lagi.

“Di deket SMA 98”, jawab saya singkat sambil terus menunjukkan wajah ramah kepada si Bapak.

“Oo.. di Kelurahan Baru ya, eh itu daerah Kalisari”, si Bapak ternyata langsung menimpali.

Ternyata Bapak ini tau daerah Kalisari, Luar Biasa! Penasaran saya, bertanya saja saya sama si Bapak, “Emang Bapak tinggalnya di mana Pak?”

“Saya tinggal di Bandung”, jawab si Bapak.

Nah lo, si Bapak tinggal di Bandung tapi bisa tau daerah Kalisari. Tapi setelah ditanyai lebih lanjut ternyata Bapak ini dulunya sekolah di SMA 39 (ada di daerah Kopasus, Cijantung) dan rumahnya pun di sekitar situ. Pantas saja si Bapak tau.

Perbincangan pun masih berlanjut dan saya pun jadi terlanjur tertarik untuk berbincang dengan si Bapak. Kenapa bisa Bapak ini ada di Depok padahal Rumahnya di Bandung? Ternyata Bapak ini baru saja bekerja di Vila Kalisari (perumahan di sekitar Kalisari), tapi lebih tepatnya baru saja ditipu orang untuk bekerja di Vila Kalisari.

“Hmm..”, saya sedikit berekspresi empati mendengar penuturan si Bapak yang baru saja ditipu. Sebenarnya ekspresinya bercampur bingung karena tidak terlalu paham dengan cerita si Bapak, tapi untuk menghormati apa yang sudah diceritakan si Bapak jadi saya tidak bertanya ulang mengenai ceritanya.

Di luar dugaan Bapak ini ternyata bisa membaca raut wajah saya hingga kemudian bertanya, “Ngerti gak ceritanya?”

Hehe.., dalam hati saya cuma bisa cengar-cengir, ternyata wajah saya gak bisa bohong.

Si Bapak pun menceritakan kembali kisahnya tanpa saya minta. Sudah satu pekan ini beliau di Jakarta, ada seorang temannya yang menawari pekerjaan untuk merenovasi rumah di daerah Vila Kalisari, katanya akan dibayar 14 juta rupiah tapi temannya ini minta bagian 3 juta rupiah. Jadilah si Bapak yang bekerja dalam tim bersama 7 orang lainnya menerima pekerjaan ini. Dan di awal si Bapak dan timnya patungan 3 juta rupiah untuk diberikan kepada temannya yang telah memberikan pekerjaan dengan keyakinan setelah pekerjaan selesai mereka akan mendapatkan uang sebesar 14 juta rupiah. Hari pertama sampai ketiga temannya si Bapak yang menawari pekerjaan masih memantau pekerjaan si Bapak tapi pada hari selanjutnya sampai hari ketujuh temannya sudah tidak pernah datang. Dan di hari ketujuh inilah semuanya terbongkar. Ketika semua cat rumah sudah dikerok, siap-siap direnovasi, datanglah seseorang yang marah-marah kepada si Bapak, ternyata orang yang marah-marah ini pemiliki asli rumah ini. Dia tidak pernah merasa meminta orang untuk merenovasi rumahnya bahkan rumah ini sebenarnya mau dijual tapi sekarang kondisinya malah mengenaskan karena cat dindingnya sudah dikelotok. Bingunglah si Bapak dan mulai sadar bahwa ternyata dirinya sudah ditipu oleh temannya yang menawari pekerjaan. 14 juta tidak jadi didapat dan 3 juta pun telah melayang. Jadilah si Bapak dan timnya luntang lantung di Depok dengan uang yang semakin menipis.

Sampai pada si Bapak selesai menceritakan ini dan menunjukkan dirinya sekarang hanya punya uang 7 ribu rupiah yang sangat tidak mencukupi untuk pulang ke Bandung, ditambah dirinya mengidap pembengkakkan jantung yang sewaktu-waktu bisa kambuh, bahkan sampai ditunjukkan kepada saya obat-obatannya, saya khawatir sebenarnya saya yang hendak ditipu oleh si Bapak. Maklum saja, di Jakarta dan Depok banyak kasus orang yang menghampiri orang lain dengan menceritakan kemelasan hidupnya kemudian meminta uang untuk menambal kemelasan hidupnya tadi. Dan saya sudah pernah menghadapi kasus ini beberapa kali, bisa lihat tulisan saya yang berjudul “Sudah Terkikiskah Rasa Saling Percaya?”.

Perbincangan masih terus berlanjut, si Bapak mulai menceritakan kehidupannya, dan hati saya mulai bimbang apakah setelah ini si Bapak akan meminta kemurahan hati saya atau tidak. Ya, bimbang, karena kalau saya mau menyamakan si Bapak dengan “penipu-penipu” sebelumnya, penampilannya sangat beda, pakaiannya rapi dan tas yang dikenakannya pun bukan tas murahan. Gaya bicaranya pun tidak seperti orang yang sedang menunjukkan kemelasan hidup, tidak disedih-sedihkan atau dimuram-muramkan, si Bapak bercerita dengan sesekali tersenyum dan menertawai kejadian yang menimpa hidupnya, santai sekali si Bapak ini bercerita. Saya pun hanya bisa menjaga husnudzon saya pada si Bapak.

Nyaman sekali sepertinya si Bapak menceritakan hidupnya kepada saya. Mulai dari kuliahnya dahulu sampai dengan keluarganya sekarang. Ternyata si Bapak dulu kuliah di Universitas Parahiyangan Bandung, Jurusan Teologi. Awalnya saya tidak mengerti teologi belajar apa, saya pikir mirip dengan geologi tapi ternyata berbeda jauh. Buat yang belum tau, teologi itu jurusan yang mempelajari perbandingan agama, dan karena Universitas Parahiyangan adalah universitas Katolik maka agama yang dibandingkan adalah agama Katolik dengan agama lainnya. Mengetahui teologi adalah jurusan yang mempelajari hal seperti itu, saya kembali bingung. Saya bertemu dengan orang yang sedang beristirahat di masjid yang kemungkinan besar adalah seorang muslim tapi ternyata dahulu kuliah di jurusan teologi. Tanpa diminta lagi si Bapak pun memberitahu kalau dirinya seorang mualaf sejak tahun 2003 karena kuliah teologinya ternyata membawa beliau untuk mempelajari Islam lebih jauh dan kemudian memutuskan untuk mengislamkan dirinya. Subhanallah, hidayah Allah memang bisa datang kepada siapapun.

Begitulah cerita terus berlanjut. Bercerita juga si Bapak mengenai awal mula beliau terkena pembengkakkan jantung kemudian ditolong oleh Yayasan Percikan Iman yang dikelola oleh Ust. Aam Amirudin di Bandung, bahkan sampai dibiayai kehidupan diri dan keluarganya selama 8 bulan. Bercerita juga si Bapak mengenai 3 orang anaknya, atau tentang bagaimana kisah perjalanan kehidupan si Bapak dengan istrinya.

Beberapa menit lagi adzan Isya akan berkumandang, sudah banyak cerita yang diungkapkan si Bapak, bahkan sampai bajunya yang rangkap 4 dan celananya yang rangkap 2 juga dia ceritakan, pakaian rangkap itu imbas dari pembengkakan jantungnya. Pada titik ini ternyata kewaspadaan saya belum terbukti karena si Bapak sama sekali tidak meminta kemurahan hati saya untuk memberinya beberapa lembar rupiah, bahkan sampai adzan berkumandang pun tidak ada ucapan yang menyinggung tentang itu. Kami pun bergegas sholat Isya.

Lepas dari perbincangan ini saya mulai berpikir untuk memberi bekal kepada si Bapak untuk pulang ke Bandung walau si Bapak tidak pernah meminta. Coba cek saku celana sebelah kanan ternyata ada recehan, coba cek dompet, ternyata tebalnya dompet saya hanya diisi oleh berbagai macam jenis kartu, tidak ada sepersen uang pun yang berada di dompet. Tinggal satu sumber uang saya, di saku celana sebelah kiri masih ada amplop pemberian waktu mengisi materi di Pesantern Kilat SMP As Salam. Saya tau di dalam amplop itu masih ada uangnya, tapi… sepertinya terlalu besar jumlahnya. Apa baiknya uangnya dipecah dulu? Ditukarkan dengan beberapa teman yang masih ada di MUI? Saya rogoh saku celana saya dan saya ambil amplopnya. Ahh.. Ternyata amplopnya dilem, sepertinya terlalu bodoh kalau untuk berinfaq saya harus mensyaratkannya dengan berbagai macam hal aneh, sampai harus mengupas lem yang ada di amplop, mencari-cari orang yang mau ditukarkan uangnya, jika seperti ini niatnya keburu berubah. Ya, mungkin ini cara unik dari Allah untuk ‘memaksa’ hambanya beramal lebih, dengan mengosongkan dompet, menyisakan receh di saku celana sebelah kanan, dan hanya menyisakan sebuah amplop di saku celana yang lainnya.

Bismillah. Saya cari posisi si Bapak, beliau sudah berdiri dan bersiap beranjak pergi, saya pun segera menghampirinya, sesaat kemudian menegurnya dari belakang, sebagaimana di awal si Bapak menegur saya ketika sedang mengenakan sepatu. Tak banyak bicara, amplop pun kini berpindah tangan.

“Semoga Allah membalasnya Dek..”

Aamiin, dalam hati saya berujar dan tersenyum.

“Nama adek siapa?”, tanya si Bapak sejenak melanjutkkan.

“Topan Pak..”

Hehe.. Ternyata kebiasaan yang satu ini belum berubah, berbincang panjang dengan orang asing tapi lupa memulainya dengan perkenalan hingga sampai akhir pun saya tidak tau nama si Bapak, padahal di buku “Bagaimana Menyentuh Hati” mengingat nama orang dalam sebuah perkenalan adalah hal yang penting. Mudah-mudah lain kali bisa memulainya denga perkenalan. 🙂

Semoga ada hikmah yang bisa diambil dari cerita ini.

 

*redaksi perbincangan tidak 100% tepat dengan aslinya

4,5

Sekitar 3 tahun lalu ketika pertama kali menapaki kaki di fasilkom UI, ada satu hal yang cukup dalam tertanam di kepala saya: lulus 4 tahun dengan predikat cum laude! Bagi saya cukup 4, tidak perlu dikurangi atau dilebihkan, saya tidak punya obesesi  lulus 3,5 tahun, terlalu singkat menurut saya. Tapi yang lebih jelas lagi, tidak mungkin bagi saya lulus lebih dari 4 tahun, karena jika itu sampai terjadi , berapapun IPK saya, predikat cum laude tidak akan bisa tercapai.

Alhamdulillah, sampai saat ini IPK saya masih berada di atas 3,5 walau sudah mulai mendekati titik kritis cum laude. Tapi kuliah tinggal 2 semester lagi, SKS juga sudah tidak banyak lagi, insya Allah saya bisa cum laude!

Kira-kira seperti itulah yang ada di kepala saya sekitar 1 bulan yang lalu, dan mungkin masih cukup besar mendominasi mimpi di kepala ini sampai kemarin sore akhirnya waktu mempertemukan saya pada titik itu, pada titik yang memang sudah saya perkirakan sejak 1 bulan yang lalu. Dan titik inilah yang akhirnya menghantarkan saya pada perbincangan singkat tadi pagi.

“Pak, Bu, kalo Topan lulus 4,5 tahun gimana?” Hanya ini yang saya lontarkan tadi pagi, ingin tahu saja kira-kira bagaimana reaksi mereka. Dan saya bersyukur punya orang tua yang luar biasa pengertian, mereka tidak melontarkan  pertanyaan “Kenapa?”, seolah tidak mau tahu alasan saya melontarkan pertanyaan tersebut. Mereka hanya mengatakan “Ya gak apa-apa, selama adek suka gak apa-apa”. Jujur, ini di luar perkiraan saya, saya pikir akan ada sedikit perdebatan dengan Bapak atau Ibu saya, tapi tenyata mereka tidak mempermasalahkannya sama sekali, semuanya diserahkan pada keputusan saya.

Sekarang jelas tidak ada penghalang yang nyata bagi saya untuk menyempurnakan satu titik pada kemarin sore, hanya ada gejolak hati yang masih sedikit mengeluarkan letupannya. Dan kini tangan ini harus semakin sering mengelus dada, belajar melapangkan satu mimpi yang perlahan pergi. Mulai saat ini pun saya harus sering berkata pada hati ini: Jika mimpi ini memang harus terbang untuk memberikan ruang pada sebuah bakti yang lebih besar, saya selalu tau dan yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya, dan Dia tidak akan menyiakan apa yang telah dan akan saya lakukan untuk jalan ini.

Carilah Istri yang Bisa Menjadi Seorang Ibu

Coba lihat perempuan yang satu itu, semua pria akan terpesona jika memandangnya pada pandangan pertama. Sang Penciptanya telah memberikan kecantikan yang aduhai pada fisiknya. Senyumnya begitu meneduhkan tiap kegalauan, bicaranya sangat menenangkan hati yang resah, dan tatapan matanya memancarkan rasa perhatian yang menyejukkan pada tiap jiwa yang ditatapnya, duh cantiknya..

Sekarang coba lihat perempuan lain yang satu ini, prestasi akademiknya luar biasa, IPK-nya dahsyat di atas 3.5! Kecermelangannya selalu tampak dalam setiap perlombaan yang dia ikuti. Mendengar namanya memenangkan sebuah perlombaan sudah hal yang tidak asing lagi, luar biasa!

Tapi masih ada perempuan lain di sudut sana, seribu aktivitas tak mematahkan semangat dalam dirinya. Idealisme tertanam dengan begitu kuat dalam jiwanya. Satu langkah kecil yang ia lakukan saat ini baginya untuk seribu langkah membangun peradaban bangsa yang lebih baik. Jangan heran jika namanya begitu banyak tercantum dalam berbagai pergerakan, oraganisai, kepanitiaan, atau hal lain yang sejenisnya, dahsyat!

Sebuah kewajaran jika seorang lelaki tertarik dengan keistimewaan perempuan, karena itulah sebuah fitrah yang telah ditanamkan dalam diri setiap lelaki, sebagaimana dahulu manusia pertama bernama Adam memiliki ketertarikan dengan Hawa. Dan ketika seorang lelaki memutuskan untuk melengkapi ½ agamanya maka bagi saya hal itu bukanlah sekedar mencari istri yang cantik, berprestasi, ataupun seoarang aktivis idealis. Lebih dari itu melengkapi ½ agama bagi saya adalah sarana untuk membangun peradaban, karena membangun peradaban dimulai dari elemen terkecil, setelah membina diri sendiri tentu selanjutnya adalah membangun sebuah keluarga, dan membangun sebuah keluarga akan dimulai dari menentukan istri yang nantinya akan menjadi Ibu dalam keluarga tersebut. Islam-pun memandang betapa pentingnya peran seorang Ibu dalam sebuah keluarga.

Dari Abu Hurairah dia berkata telah dating kepada Rasulullah saw seorang laki-laki lalu bertanya: “Wahai Rasulullah siapakah yg lbh berhak untuk saya pergauli dengan baik?” Beliau menjawab “Ibumu” dia bertanya lagi “Kemudian siapa?” Beliau menjawab “Ibumu” dia bertanya lagi “Kemudian siapa?” Beliau menjawab “Ibumu” dia bertanya lagi “Kemudian siapa?” Beliau menjawab “Ayahmu”.

Maka pesan saya untuk Big, Jay, Nunug, dan semua saudara saya yang ingin mencari istri, carilah istri yang bisa menjadi seorang ibu, yang tidak hanya cantik rupawan, yang tidak hanya berprestasi dalam akademis, atau seorang aktivis yang sangat idealis, tapi yang terpenting dia benar-benar bisa menjadi seorang ibu yang penuh cinta dan kesabaran. Sayang sekali jika gen luar biasa yang nantinya akan menurun dalam diri anak-anak kalian tidak dipadukan dengan cinta dan kesabaran seorang ibu hingga terbentuklah seorang anak yang dibesarkan dengan cinta dan ditarbiyah dengan kesabaran.

Dan pesan saya untuk calon-calon istri dari Big, Jay, Nunug, dan semua saudara saya maka terus bersiaplah hingga kalian benar-benar pantas mendapat gelar dan panggilan sebagai seorang Ibu. Hingga 3 kali keutamaan seorang Ibu benar-benar menjadi sanjungan Islam yang tepat pada diri kalian.

Wallahu a’lam.

Dan Ketika Langkah itu Tiba..

Baru saja tadi si anak bercengkerama dengan 2 manusia yang luar biasa jasanya, Bapak dan Ibu tentunya. Bagi si anak, momen-momen seperti ini memang tidak terlalu sering terjadi, jadi cukup menyenangkan jika bisa bercengkerama dengan mereka berdua.

Sebenarnya hanya berawal dari buku tabungan yang sudah hilang berbulan-bulan karena kecerobohan si anak yang satu ini, dan tadi pagi tiba-tiba diminta mencarinya karena memang sudah tidak wajar buku tabungan hilang berbulan-bulan tapi yang punya cuek-cuek saja. Pencarian pun dimulai dengan sebuah keyakinan bahwa buku tabungan itu ada di sebuah tas yang tas itu sendiri lupa ditaro di mana (pembaca yang budiman, tolong jangan ditiru sifat-sifat seperti ini). Tapi karena kegigihan seorang Ibu dan tetap saja anaknya yang ceroboh mencari barang-barang miliknya sendiri, akhirnya sang Ibu lah yang menemukan di mana tas itu diletakkan. Huff.. ketemu juga.. Eh tapi ternyata keyakinan awal itu adalah keyakinan yang salah, buku tabungan tidak ada di sana, mission failed.

Jelas keyakinan yang pertama tadi salah, jadi sekarang lebih baik bongkar-bongkar lemari saja. Si anak ceroboh ini pun mulai membongkar laci lemari pakaiannya dan dengan keyakinan tinggi dikatakannya bahwa buku tabungannya tidak ada di situ. Tapi sang Ibu yang tau kecerobohan dan ketidaktelitian si anak mencari ulang di tempat yang sama. Hasilnya luar biasa! Bukan sulap bukan sihir ternyata sang Ibu menemukan buku tabungan itu di tempat yang diyakini si anak tidak ada, ckckck.. Mission success.

Tidak penting sebenarnya menceritakan kisah pencarian buku tabungan, dibukukan dalam cerpen atau novel pun tidak akan laku. Tapi dari sinilah akhirnya si anak, sang Ibu, dan sang Bapak mulai bercengkerama, mulai membicarakan jumlah uang di tabungannya, akan digunakan untuk apa, bahkan sampai membicarakan tentang rumah kecil di sebuah daerah yang baru saja diselesaikan cicilannya.

Ya, tentang sebuah rumah kecil, tentang perkataan sang Bapak yang punya keinginan memberikannya untuk si anak, tentang sang Bapak yang telah jauh memikirkan masa depan anaknya dibandingkan si anak itu sendiri. Tapi akhirnya yang terpikirkan oleh si anak bukanlah rumah itu karena rumah itu pun masih memungkinkan lebih bermanfaat untuk dijual kembali. Dan yang memang benar-benar terpikirkan adalah ketika kelak kaki si anak benar-benar melangkah menuju sebuah rumah kecil, ketika permaisuri itu datang dan menyulut kehidupan baru si anak, bersiap menjadi sang Bapak.

Ya, jarang sekali berpikir kelak akan meninggalkan mereka berdua. Jarang sekali berpikir kaki bayi mungil yang dahulu mungkin mereka ciumi ini kelak akan melangkah pergi meninggalkan mereka. Bukan sebuah kedurhakaan tapi membayangkan kelak mereka hanya berdua saja di saat anak-anaknya membina sebuah kehidupan baru terasa sungguh sulit walaupun si anak tau bahwa mereka pasti akan tersenyum bahagia ketika melihat anaknya telah berdasi dan membahagiakan kehidupan barunya, karena itulah harapan mereka berdua, kesuksesan si anak, tak pandang betapa kerasnya pengorbanan mereka.

Dan rasa bersalah pun akhirnya bergelayut di hati dan pikiran, ketika perkataan ‘ahh..’ pernah benar terucap, ketika sebuah permintaan pijatan di bahu sang Bapak atau sang Ibu tak terpenuhi dengan maksimal, ketika terlalu pagi dan terlalu larut kaki ini sampai di rumah, ketika sebuah kekhawatiran mereka dianggap dengan keremehan, dan ketika begitu banyak yang terlalaikan untuk menyulam senyum di wajah mereka.

Selagi ada waktu, sulamlah terus senyum di wajah mereka..
Jangan biarkan kerut di dahi mereka menjadi tak berarti..
Jangan pula membiarkan kasarnya tangan mereka menjadi tak berbalas..
Dan ketika langkah itu tiba, mungkin waktu bercengkerama itu akan berkurang atau menghilang, tapi pastikan saja sulaman senyum itu terus berjalan di wajah mereka hingga senyum itu benar-benar lagi tak terlihat dan hanya doa saja yang selalu terlantun untuk mereka..

Ya Allah sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi anak ceroboh ini..