Investasi Tekad

Sekitar tahun 2005, saat saya masih duduk di bangku SMA, tepatnya saat masih kelas X, saya diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan dan seleksi Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI). Saat itu saya memulainya dari 100 besar DKI Jakarta, kemudian masuk ke 50 besar dan gagal ketika menuju 20 besar. Setiap proses ujian seleksi biasanya diawali dengan pelatihan selama satu pekan. Pada masa-masa pelatihan ini, setiap harinya para peserta diberikan latihan untuk diselesaikan di hari itu ataupun pekerjaan rumah yang akan dibahas keesokan harinya.

Selama masa pelatihan, beberapa kali saya bersebelahan dengan seorang peserta yang secara tampilan saya nilai begitu sederhana dan cukup pendiam, berbeda dengan beberapa peserta lain yang sepertinya punya pengetahuan banyak tentang dunia komputer, terlihat dari perbincangan satu sama lain di antara mereka. Namun, yang menarik dari teman saya ini adalah dia selalu datang lebih pagi setiap harinya. Jadwal pelatihan dimulai pukul 9 pagi, tapi biasanya dia sudah hadir sejak satu jam sebelumnya. Yang dia lakukan setiap kali datang di pagi hari adalah menyalin kodingan yang dia tulis di kertas ke editor yang ada di komputer tempat kami menjalani pelatihan. Dari kebiasaannya ini saya pun bertanya-tanya, kenapa dia tidak meng-copy apa yang dia kerjakan di komputer rumah ke komputer tempat pelatihan? Dan jawabannya cukup membuat saya tertunduk malu, ternyata dia tidak memiliki perangkat komputer di rumahnya T_T

Tadinya saya pikir semua yang mengikuti pelatihan TOKI ini adalah mereka yang setiap harinya berkecimpung dengan komputer, baik di sekolah maupun di rumah. Kebetulan saat itu saya memiliki perangkat komputer sehingga setiap kali ada pekerjaan rumah, malamnya saya coba kerjakan di rumah, dan mayoritasnya adalah saya gagal menyelesaikannya. Tapi teman saya yang tadi saya kisahkan tidak memiliki komputer, memiliki hasil yang berbeda dengan saya, apa yang dia salin dari kertas ke editor komputer tempat pelatihan, mayoritasnya berhasil. Dalam hal ini saya memiliki keunggulan dalam hal yang bersifat materi, yaitu kepemilikan komputer. Tapi ternyata hal ini tidak menjamin saya bisa memiliki hasil yang lebih baik.

Cerita di atas ingin saya kaitkan dengan proses kita mendirikan startup. Salah satu proses yang hampir pasti dilakukan orang-orang yang berniat mendirikan sebuah startup adalah mencari investor yang mau mendanai startup-nya. Hal ini tentu tidak salah dan memang penting untuk dilakukan. Namun, mendirikan startup tentu saja bukan hanya sekedar mencari pendanaan karena pada kenyataannya pendanaan besar tidak selalu menjadi kunci sukses sebuah startup.

Paul Graham, salah satu co-founder Y Combinator, program akselelator startup yang telah berhasil memunculkan dropbox, airbnb, dan masih banyak lagi, menuliskan dalam blog-nya tentang 18 kesalahan yang dapat menyebabkan sebuah startup gagal. Salah satu hal yang beliau angkat adalah mendapatkan dana yang terlalu besar (walaupun pada poin yang lain beliau juga menuliskan tentang mendapatkan dana yang terlalu kecil). Dana yang terlalu besar secara tidak langsung akan mendorong founder untuk berpindah ke kantor yang lebih baik dan menambah jumlah karyawan. Jika hal ini tidak di-manage dengan baik maka akan berdampak pada perubahan suasana kerja. Karyawan yang semakin banyak juga bisa berdampak pada politik kantor antar karyawan yang bisa menghambat pertumbuhan startup.

Tulisan ini tentunya tidak bermaksud untuk menghentikan semangat bagi para pelaku startup untuk mencari investasi. Tapi sebelum berbicara tentang investasi yang memiliki relevansi dengan uang, ada investasi lain yang harus dimiliki pelaku startup, yaitu investasi tekad.

Kembali ke kisah yang saya paparkan sebelumnya, teman saya yang memiliki investasi (baca: modal) materi lebih sedikit dari saya ternyata memiliki investasi tekad yang lebih besar dari saya. Dan ternyata itu membuatnya lebih berhasil dari saya. Ketiadaan komputer pribadi tidak saya maksud sebagai ketiadaan investasi tapi ketiadaan komputer pribadi adalah kondisi keberadaan investasi yang lebih kecil. Mungkin investasi yang dia miliki hanya cukup untuk mengadakan pulpen dan kertas untuk menulis tapi kebesaran investasi tekad yang dia miliki berhasil membawanya untuk me-manage investasi materi yang dia punya sehingga visinya dapat terselesaikan dengan cara yang kreatif. Jika dia tidak memiliki investasi tekad yang besar, bisa saja dia kehilangan daya pikir kreatif untuk ngoding di kertas menggunakan pulpennya.

Mendirikan startup mungkin bisa saya gambarkan seperti kita melakukan perjalanan dari sebuah titik awal menuju titik akhir. Anggaplah saya ingin melakukan perjalanan dari Depok ke Pasar Minggu. Saya mendapatkan investasi dari teman saya sebesar Rp 30,000. Saat itu saya mencari cara terbaik dan tercepat untuk sampai ke Pasar Minggu, hingga akhirnya saya memutuskan untuk naik taksi. Ternyata saat taksi baru sampai Lenteng Agung, argonya sudah menunjukkan angka Rp 25,000, tentu ini tidak akan cukup sampai di Pasar Minggu, perkiraan masih butuh Rp 25,000 lagi untuk sampai di Pasar Minggu. Saat itu saya putuskan untuk turun dari taksi di Lenteng Agung. Dengan sisa uang Rp 5,000 saya bersikeras ingin tetap melanjutkan perjalanan lagi dengan taksi sampai ke Pasar Minggu. Akhirnya saya memutuskan untuk menetap di Lenteng Agung selama beberapa jam untuk mengamen sampai uang saya cukup untuk melanjutkan perjalanan menggunakan taksi sampai ke Pasar Minggu.

Dengan cara seperti di atas, saya sudah terlanjur nyaman berperjalanan dengan taksi sehingga saya memutuskan untuk mencari investasi tambahan agar tetap bisa melanjutkan perjalanan dengan taksi. Padahal bisa saja saat itu saya langsung berjalan ke stasiun dan melanjutkan perjalanan menggunakan kereta, atau bisa juga saya melanjutkan perjalan menggunakan angkutan umum agar bisa segera sampai di Pasar Minggu.

Mencari investasi di tengah jalan belum tentu sepenuhnya salah, tapi apakah kita akan menunda peluncuran startup kita hanya karena kita terlalu bergantung pada investasi materi? Padahal mungkin banyak sekali orang di sekitar kita yang sedang melakukan perjalanan yang sama. Jika saja di awal kita punya investasi tekad yang besar tentu kita bisa melakukan perjalan dengan lebih kreatif dan cepat. Ya, kreatif dan cepat bagi saya adalah keharusan dalam mendirikan startup, dan itu akan muncul dari investasi tekad yang besar.

Jadi, sebelum kita mencari investasi materi untuk startup kita, sudah berapa besar investasi tekad yang kita miliki? 🙂

Badr-Interactive: Evaluasi Ibadah

Assalamu’alaikum wr.wb.

 

Jika tugas-tugas kuliah / organisasi / kerja tercatat dan termanajemen dengan rapi mengapa tidak dengan suatu daya upaya yang jelas menuju kepada-Nya? Seberapa baik ibadah kita dan seberapa terjaga evaluasi-evaluasi kita pada penghambaan kepada-Nya?

Di awal tahun baru 2012 ini, resolusi selalu kita rencanakan, dan mari resolusikan juga ibadahmu karena kini Badr Interactive kembali menyajikan sebuah aplikasi baru untuk mengevaluasi ibadahmu: Evaluasi Ibadah

Dapatkan aplikasi ini free di Android Market: https://market.android.com/details?id=com.bi.mutabaah

Tahun baru, mari tingkatkan ibadah, tentukan targetmu! 🙂