Bukankah Abu Jahal juga Seorang Pemimpin?

Abu Jahal, begitulah ummat Islam lebih sering mengenalnya. Nama aslinya sebenarnya cukup indah, ‘Amr Ibnu Hisyam, dan julukan yang diberikan oleh pendduduk Mekah pada saat itu pun cukup bagus, Abu Hakam. Abu Jahal dan Abu Hakam tentunya dua makna yang saling bertolak belakang. Ironi, satu sosok manusia yang sama memiliki dua julukan yang bertolak belakang, tapi pasti keduanya memiliki sebab atas kemunculannya. Jika kita menelisik alasan ummat Islam menjulukinya sebagai Abu Jahal, jelas karena ke-Jahiliyah-annya. Sikap penolakannya yang begitu besar pada kebenaran yang dibawa oleh Islam lah yang menyebabkannya mendapat julukan itu. Namun, tentu julukan Abu Hakam pun memiliki alasan tersendiri. Dan alasan yang paling memungkinkan kenapa Abu Jahal juga dijuluki sebagai Abu Hakam adalah karena kepandaiannya dalam urusan hukum, atau bisa jadi karena kepiawaiannya dalam ilmu pemerintahan di Mekah saat itu.

Yaa, jadi selain begitu bersemangatnya ummat Islam menjulukinya sebagai Abu Jahal maka kita harus jujur mengakui bahwa Abu Jahal punya kemampuan memimpin yang baik hingga orang-orang Mekah pada saat itu pun menjulukinya sebagai Abu Hakam. Sebagai seorang pemimpin saat itu pun Abu Jahal memiliki kemampuan memberi pengaruh yang cukup baik, pandai membuat propaganda. Teringat sebuah kisah ketika Abu Thalib, paman dari rasulullah saw, akan menemui ajalnya. Saat itu rasulullah saw begitu ingin agar pamannya dapat mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun, di sisi lain Abu Jahal bersama karibnya, Abu Lahab, terus memberikan propaganda, “Apakah Engkau akan mengkhianati nenek moyang kita?”. Propaganda itu terus diluncurkan hingga Abu Thalib pun meninggal tidak dalam kondisi muslim.

Memiliki kecakapan dalam pemerintahan dan hukum, serta punya daya pengaruh, bukankah itu cukup untuk menjadi syarat sebagai seorang pemimpin? Yaa, sepertinya jika merujuk pada syarat-syarat tadi, sekali lagi saya harus berlapang dada untuk mengatakan bahwa Abu Jahal juga seorang pemimpin. Namun, Islam tidak hanya ingin menciptakan seorang pemimpin. Apa yang telah rasulullah saw lakukan selama 13 tahun berdakwah di Mekah dan Madinah tidak hanya untuk menciptakan pemimpin ala kadarnya.

Sejak awal, karakterisitik jalan dakwah telah menunjukkan kepada kita bahwa ia tidak selalu hadir dalam kenikmatan, jalan dakwah justru didahului dengan onak dan duri. Bukankah kita sama-sama mendengar, dahulu sebelum Rasulullah saw diturunkan ke tanah Arab, mereka yang berjuang di jalan tauhid terus mendapatkan siksaan. Mereka tak henti meskipun harus disisir menggunakan sisir besi, atau ditarik dua sisi tubuhnya hingga terbelah. Begitupun pada masa rasulullah saw, kita menyaksikan kisah seorang Bilal bin Rabbah yang rela dijemur di tengah terik padang pasir untuk mempertahankan keyakinannya. Dari sini kita bisa menyaksikan bagaiman rasulullah saw telah membentuk para sahabat menjadi pemimpin-pemimpin yang kuat, yang mereka tak mudah takluk oleh kondisi-kondisi yang sulit.

Sebelum Rasulullah saw memberikan paham kenegaraan kepada ummat Islam saat itu, 13 tahun periode Mekah dihabiskan untuk menguatkan pribadi-pribadi ummat Islam, maka wajar jika dahulu shalat malam pernah menjadi hal yang wajib mereka laksanakan, karena kedekatan dengan Rabb-nya benar-benar ingin dibangun pada saat itu. Pada saat itu Rasulullah saw benar-benar memberikan bekal yang tepat untuk para sahabat. Karena bekal itulah yang tidak akan pernah membuat mereka mati dari keislamannya. Dan benar saja, strategi ini cukup ampuh dalam membentuk seorang pemimpin yang tidak ala kadarnya. Perang Khandaq telah mengajarkan kepada kita tentang kesabaran dan ketabahan ummat Islam saat itu. Persediaan makanana yang menipis tidak mematikan keislaman mereka, mereka tetap bertahan dengan kondisi seperti itu. Ancaman dari pasukan kafir quraisy yang bersekutu dengan kabilah-kabilah lain justru semakin menguatkan keimanan mereka. Dan pada saat itulah akhirnya pertolongan Allah turun. Dengan izinnya, badai padang pasir pun telah berhasil membubarkan pasukan kafir quraisy bersama sekutu-sekutunya.

Begitulah Islam, ia tak hanya mengajarkan bagaimana menjadi seorang pemimpin ala kadarnya. Tapi Islam ingin menuntun kita untuk menjadi manusia yang seutuhnya, yang tidak hanya memimpin dengan jasad dan fikriyahnya saja, tapi juga dengan ruh hingga kuatlah pondasi kepemimpinan yang dimiliki olehnya. Dan begitu juga seharusnya ketika kita ingin membentuk kader-kader yang tangguh, tak cukup hanya dengan bermodalkan leadership training, ruh kita pun lebih butuh untuk dilatih agar tetap kuat.

Maka, membentuk seorang pemimpin muslim tidak hanya sekedar bicara bagaimana melatih keterampilannya dalam memimpin dan mempengaruhi tapi bagaimana membangun pondasi yang kuat pada mereka, membangun kedekatan dengan Rabb-nya. Jika tujuannya hanya membentuk manusia yang dapat memimpin dan mempengaruhi, tak perlulah Muhammad saw dijadikan teladan, cukup Abu Jahal yang dijadikan teladan jika hanya untuk itu.

Wallahu a’alam.

Referensi dan Inspirasi:

Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim: Salim A. Fillah

Muhammad saw: Super Leader, Super Manager: Antonio Syafi’i

Jalan Dakwah: Musthafa Masyhur

Bekal Dakwah: Musthafa Masyhur

Shiroh Nabawiyah

Advertisements

10 thoughts on “Bukankah Abu Jahal juga Seorang Pemimpin?

  1. akakage89 says:

    Subhanallah. Gitu dong Pan update 😀 ~sok-sok-an uptodate padahal blog sendiri kgk. Very nice post Pan. Mudah-mudah kita semua makin hari makin jadi pribadi pemimpin yg baik, supaya bisa memimpin org menuju kebaikan. Btw dulu jaman DPM evaluasi buat ane sebagai pemimpin apa nih Pan?

    • topan bayu says:

      itu di-update udah dari bulan maret jar :p
      judul2 tulisan udah ada beberapa tapi belum ada yang diimplementasiin 😀

      hmm.. evaluasinya ane pikir2 dulu jar.. 😀

  2. Muhamad Fajar says:

    Subhanallah. Gitu dong Pan update 😀 ~sok-sok-an uptodate padahal blog sendiri kgk. Very nice post Pan. Mudah-mudah kita semua makin hari makin jadi pribadi pemimpin yg baik, supaya bisa memimpin org menuju kebaikan. Btw dulu jaman DPM evaluasi buat ane sebagai pemimpin apa nih Pan?

  3. mmbah says:

    bener, pan. bener bener, pan. to lead is to influence.. tapi gak semua leader itu baik.. gak usah abu jahal, hitler, musollini, semua pemimpin.. tapi harus seimbang ky kata lo ya, pan.. bener bener.. sepakat 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s