Mukena Untuk Ibu

Dua bulan sebelum Ibu meminta dibawakan jilbab dan baju lengan panjang ke rumah sakit adalah dua bulan sebelum Ibu kembali pada-Nya. Dua bulan sebelum Ibu meminta dimasakkan sayur asam, makanan kesukaannya, adalah dua bulan sebelum saat terakhir saya memeluknya. Dua bulan sebelum itu, saya bersikeras agar Ibu tetap sholat meskipun tanpa mukena, meskipun kata Ibu badannya bau karena berkeringat.
Saat itu, Ibu kembali tertidur di ranjang rumah sakit dalam kondisi lemah karena gula darahnya turun drastis setelah malamnya setengah sadar atau bahkan tidak sadarkan diri di rumah. Saat itu, yang saya tau sholat itu wajib dan saya mau Ibu sholat dalam kondisi apapun, meskipun tanpa mukena. Karena menit-menit sebelum itu saya sudah lelah berdebat panjang dengan seorang penjaga masjid rumah sakit yang tidak mau sekedar meminjamkan mukena saja, nanti hilang katanya. Saya berusaha paham dan sangat paham tapi saya tidak tau sebenarnya mana yang lebih penting, menjaga mukena agar tidak hilang atau meminjamkan mukena untuk menyelamatkan seseorang agar tetap bisa sholat.
Sarung. Hanya itu yang ada di dekat Ibu. Jadilah saya meminta Ibu untuk menjadikan sarung disampingnya sebagai mukena, dan jadilah saat itu Ibu sholat menggunakan sarung untuk menutupi kepalanya karena saya tidak berhasil menemukan mukena untuk Ibu.

***

Dua bulan berlalu setelah saya berdebat panjang dengan seorang penjaga masjid. Dan saat itu begitu senangnya saya ketika Ibu meminta dibawakan mukena ke rumah sakit karena mukenanya kotor terkena muntahannya. Oh iya, saat itu adalah keempat kalinya Ibu masuk rumah sakit dalam waktu satu tahun, kali ini Ibu dirawat di ruang HCU (semacam ICU) dan yang boleh menjaga hanya perawat rumah sakit, keluarga menunggu di luar ruangan dan hanya boleh sesekali masuk. Pada saat saya tau Ibu meminta dibawakan mukena, saya sudah terlanjur di kampus. Satu tempat di kampus yang saat itu saya ingat ada mukena baru dan bersih adalah sekretariat SALAM UI di Pusgiwa. SMS pun terkirim ke korwat Mentari SALAM UI, sekedar untuk izin saya meminjam satu buah mukena untuk dibawa pergi. Alhamdulillah boleh..
Beberapa hari setelahnya, Ibu bersikeras meminta pulang, dan saya tau memang seperti itulah Ibu. Meskipun masih banyak kabel menempel di tubuhnya, Ibu bilang ia sudah merasa lebih sehat dan mau pulang. Padahal saya tau untuk makan pun Ibu masih menggunakan selang yang dimasukkan melalui hidungnya. Bapak pun tidak bisa menolak keinginan Ibu.
Hari itu, 20 Oktober 2011, pagi hari sebelum saya berangkat ke rumah sakit, Bapak berpesan bahwa Ibu meminta dibawakan jilbab dan baju lengan panjang. Ibu pun juga meminta untuk dimasakkan sayur asam. Semua permintaannya saya jalankan.
Di rumah sakit, pagi itu, segala hal yang berkaitan dengan administrasi segera diselesaikan agar Ibu bisa pulang. Ibu meminta jilbab dikenakan di kepalanya sebelum keluar dari ruangan, saya dan perawat pun membantu memakaikannya walaupun tidak terlalu rapi. Saat itu saya senang karena tanpa harus saya membujuknya, Ibu sendiri yang meminta dipakaikan jilbab. Kursi roda punΒ  mengantarkan Ibu sampai ke mobil, Ibu ditidurkan di kursi tengah dan saya juga berada di sana untuk menjaganya.
Saat itu, di dalam mobil, kata Ibu nafasnya sesak dan beliau ingin duduk. Saya pun bantu mendudukkannya kemudian menyandarkan badannya ke saya sembari setengah memeluknya. Saat itu, saya hanya bisa berkata, β€œsabar ya, nanti Topan beliin oksigen..”. Meskipun saya tau hari itu hari Kamis, dan setiap Kamis sore ada KKI SALAM UI. Yang terpikirkan saat itu, begitu sampai di rumah saya akan segera mencari oksigen dan mengabarkan ke teman-teman di SALAM UI bahwa saya tidak bisa hadir KKI karena saya harus mencarikan oksigen untuk Ibu.
Sampai di rumah nafas Ibu semakin sesak, saya segera sedikit berlari ke luar rumah, entah tiba-tiba ada saja yang memberikan saya kunci motor dan entah juga motor siapa yang saya gunakan. Yang jelas saya membawa motor itu melaju ke puskesmas, mencari oksigen tujuannya. Setelahnya, saya hanya tersenyum ke petugas puskesmas karena saya tidak berhasil mendapatkan oksigen dari sana dan tidak tau lagi harus mencari oksigen ke sana dalam waktu yang tidak banyak. Saya memutuskan kembali ke rumah dengan harapan ada orang lain yang sudah mendapatkan oksigen.
Sejenak motor saya parkir dan matikan. Suasana rumah sudah berbeda, banyak orang luar masuk ke dalam rumah. Saya hanya berusaha memperbanyak prasangka baik pada-Nya. Saya hanya terus melangkah ke dalam rumah, tidak mempedulikan orang-orang di sekitar saya, tidak mau bertanya atau menegur mereka. Di dalam rumah saya pun mendapati Bapak sudah menangis, dan saya tau saya tidak boleh menangis, saya hanya memeluk dan menenangkannya sebelum akhirnya masuk ke kamar dan mencium kening Ibu meskipun saya tau saat itu Ibu sudah tidak bisa merasakan kecupan saya di keningnya. Saya tau, setelah ini saya tidak bisa lagi menyandarkan badan saya ke Ibu ketika saya lelah, dan saya pun tidak akan pernah lagi mendengar suara Ibu yang meminta dipijat punggung atau bahunya karena lelah seharian mengerjakan pekerjaan dapur. Tapi saya tau, inilah cara Allah mengabulkan doa saya. Saya selalu berdoa agar Dia segera mengangkat penyakitnya. Dan benar, pada hari itu Dia angkat penyakitnya namun beserta dengan ruhnya. Saya ikhlas.
Hari itu hari Kamis, jadwal KKI. Saya tidak jadi mengirimkan kabar bahwa saya tidak dapat hadir KKI sore itu, saya memberi kabar yang lain ke teman-teman di SALAM UI dan memang seperti itulah kabar saya. Berharap dengan itu mereka tau dan paham jika sore nanti saya tidak hadir KKI.

***

Tanggal 20 Oktober 2011 adalah 2 hari kemarin, karena tertanggal 22 Oktober 2011, di mana pada saat itu saya sudah menjejakkan kaki di bandara Soekarno Hatta. Satu hari sebelum itu saya ada di tengah selatan pulau Jawa, mengantarkan Ibu sampai ke liang lahat. Singkat dan cepat. Apa yang harus saya lakukan tanggal 22 Oktober ini pun harus tetap saya lakukan. Ini sebuah kebaikan, dan bagi saya kebaikan itu tak boleh berhenti, ia harus tetap berjalan. Dan mungkin inilah hikmah yang Allah berikan. Allah memberikan saya ruang di SALAM UI, dan melalui inilah saya terus berbuat kebaikan dari satu titik ke titik lainnya. Dan ini mungkin cara Allah, melalui kuasa-Nya juga hanya selang satu hari setelah tanggal 20 Oktober itu, sebuah kebaikan menghantarkan saya ke Thailand. Dan saya yakin, ini cara Allah untuk mencegah saya bersedih terlalu lama dan ini cara Allah untuk tetap menghantarkan saya dari satu kebaikan menuju kebaikan lainnya. Dan saya tau bahwa saya harus terus berbuat baik.

***

Dan hari ini, saya masih mau terus berbuat baik untuk Ibu. Tidak hanya sekedar mencarikan mukena atau oksigen untuknya. Hari ini, saya hanya ingin menjadi anak sholeh yang terus mendoakannya hingga nanti suatu saat tak bisa lagi doa saya lantunkan. Dan sampai pada saat itu, saya masih sama, saya masih anak dari Ibu saya, masih tetap sebagai anak sholeh dari Ibu saya.

Lakukan saja kebaikan yang bisa kita lakukan sekarang kemudian biarkan saja Allah yang melanjutkan sekenario cerita kehidupan kita selanjutnya. Tentang kita, Bapak, Ibu, dan semua yang ada di sekitar kita, teruslah berbuat baik.

Advertisements

14 thoughts on “Mukena Untuk Ibu

  1. adenia says:

    *nangis baca blog orang tengah malem*
    InsyaAllah amalan ibunya kak topan ga akan putus karena amalan2 yg tidak akan putus adalah..
    -ilmu yang bermanfaat
    -sodaqoh jariyah
    anak sholeh/sholehah yang selalu mendoakan orangtuanya

    semangaat untuk kebaikan2 selanjutnya kak.. \(^.^)/

  2. priyono hamidah says:

    assalamu’alaikum,gimana kabarnya sekarang udah wisuda belum?selalu bersabar ya..,insya Allah ibu mendapat tempat di jannah Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s