Investasi Tekad

Sekitar tahun 2005, saat saya masih duduk di bangku SMA, tepatnya saat masih kelas X, saya diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan dan seleksi Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI). Saat itu saya memulainya dari 100 besar DKI Jakarta, kemudian masuk ke 50 besar dan gagal ketika menuju 20 besar. Setiap proses ujian seleksi biasanya diawali dengan pelatihan selama satu pekan. Pada masa-masa pelatihan ini, setiap harinya para peserta diberikan latihan untuk diselesaikan di hari itu ataupun pekerjaan rumah yang akan dibahas keesokan harinya.

Selama masa pelatihan, beberapa kali saya bersebelahan dengan seorang peserta yang secara tampilan saya nilai begitu sederhana dan cukup pendiam, berbeda dengan beberapa peserta lain yang sepertinya punya pengetahuan banyak tentang dunia komputer, terlihat dari perbincangan satu sama lain di antara mereka. Namun, yang menarik dari teman saya ini adalah dia selalu datang lebih pagi setiap harinya. Jadwal pelatihan dimulai pukul 9 pagi, tapi biasanya dia sudah hadir sejak satu jam sebelumnya. Yang dia lakukan setiap kali datang di pagi hari adalah menyalin kodingan yang dia tulis di kertas ke editor yang ada di komputer tempat kami menjalani pelatihan. Dari kebiasaannya ini saya pun bertanya-tanya, kenapa dia tidak meng-copy apa yang dia kerjakan di komputer rumah ke komputer tempat pelatihan? Dan jawabannya cukup membuat saya tertunduk malu, ternyata dia tidak memiliki perangkat komputer di rumahnya T_T

Tadinya saya pikir semua yang mengikuti pelatihan TOKI ini adalah mereka yang setiap harinya berkecimpung dengan komputer, baik di sekolah maupun di rumah. Kebetulan saat itu saya memiliki perangkat komputer sehingga setiap kali ada pekerjaan rumah, malamnya saya coba kerjakan di rumah, dan mayoritasnya adalah saya gagal menyelesaikannya. Tapi teman saya yang tadi saya kisahkan tidak memiliki komputer, memiliki hasil yang berbeda dengan saya, apa yang dia salin dari kertas ke editor komputer tempat pelatihan, mayoritasnya berhasil. Dalam hal ini saya memiliki keunggulan dalam hal yang bersifat materi, yaitu kepemilikan komputer. Tapi ternyata hal ini tidak menjamin saya bisa memiliki hasil yang lebih baik.

Cerita di atas ingin saya kaitkan dengan proses kita mendirikan startup. Salah satu proses yang hampir pasti dilakukan orang-orang yang berniat mendirikan sebuah startup adalah mencari investor yang mau mendanai startup-nya. Hal ini tentu tidak salah dan memang penting untuk dilakukan. Namun, mendirikan startup tentu saja bukan hanya sekedar mencari pendanaan karena pada kenyataannya pendanaan besar tidak selalu menjadi kunci sukses sebuah startup.

Paul Graham, salah satu co-founder Y Combinator, program akselelator startup yang telah berhasil memunculkan dropbox, airbnb, dan masih banyak lagi, menuliskan dalam blog-nya tentang 18 kesalahan yang dapat menyebabkan sebuah startup gagal. Salah satu hal yang beliau angkat adalah mendapatkan dana yang terlalu besar (walaupun pada poin yang lain beliau juga menuliskan tentang mendapatkan dana yang terlalu kecil). Dana yang terlalu besar secara tidak langsung akan mendorong founder untuk berpindah ke kantor yang lebih baik dan menambah jumlah karyawan. Jika hal ini tidak di-manage dengan baik maka akan berdampak pada perubahan suasana kerja. Karyawan yang semakin banyak juga bisa berdampak pada politik kantor antar karyawan yang bisa menghambat pertumbuhan startup.

Tulisan ini tentunya tidak bermaksud untuk menghentikan semangat bagi para pelaku startup untuk mencari investasi. Tapi sebelum berbicara tentang investasi yang memiliki relevansi dengan uang, ada investasi lain yang harus dimiliki pelaku startup, yaitu investasi tekad.

Kembali ke kisah yang saya paparkan sebelumnya, teman saya yang memiliki investasi (baca: modal) materi lebih sedikit dari saya ternyata memiliki investasi tekad yang lebih besar dari saya. Dan ternyata itu membuatnya lebih berhasil dari saya. Ketiadaan komputer pribadi tidak saya maksud sebagai ketiadaan investasi tapi ketiadaan komputer pribadi adalah kondisi keberadaan investasi yang lebih kecil. Mungkin investasi yang dia miliki hanya cukup untuk mengadakan pulpen dan kertas untuk menulis tapi kebesaran investasi tekad yang dia miliki berhasil membawanya untuk me-manage investasi materi yang dia punya sehingga visinya dapat terselesaikan dengan cara yang kreatif. Jika dia tidak memiliki investasi tekad yang besar, bisa saja dia kehilangan daya pikir kreatif untuk ngoding di kertas menggunakan pulpennya.

Mendirikan startup mungkin bisa saya gambarkan seperti kita melakukan perjalanan dari sebuah titik awal menuju titik akhir. Anggaplah saya ingin melakukan perjalanan dari Depok ke Pasar Minggu. Saya mendapatkan investasi dari teman saya sebesar Rp 30,000. Saat itu saya mencari cara terbaik dan tercepat untuk sampai ke Pasar Minggu, hingga akhirnya saya memutuskan untuk naik taksi. Ternyata saat taksi baru sampai Lenteng Agung, argonya sudah menunjukkan angka Rp 25,000, tentu ini tidak akan cukup sampai di Pasar Minggu, perkiraan masih butuh Rp 25,000 lagi untuk sampai di Pasar Minggu. Saat itu saya putuskan untuk turun dari taksi di Lenteng Agung. Dengan sisa uang Rp 5,000 saya bersikeras ingin tetap melanjutkan perjalanan lagi dengan taksi sampai ke Pasar Minggu. Akhirnya saya memutuskan untuk menetap di Lenteng Agung selama beberapa jam untuk mengamen sampai uang saya cukup untuk melanjutkan perjalanan menggunakan taksi sampai ke Pasar Minggu.

Dengan cara seperti di atas, saya sudah terlanjur nyaman berperjalanan dengan taksi sehingga saya memutuskan untuk mencari investasi tambahan agar tetap bisa melanjutkan perjalanan dengan taksi. Padahal bisa saja saat itu saya langsung berjalan ke stasiun dan melanjutkan perjalanan menggunakan kereta, atau bisa juga saya melanjutkan perjalan menggunakan angkutan umum agar bisa segera sampai di Pasar Minggu.

Mencari investasi di tengah jalan belum tentu sepenuhnya salah, tapi apakah kita akan menunda peluncuran startup kita hanya karena kita terlalu bergantung pada investasi materi? Padahal mungkin banyak sekali orang di sekitar kita yang sedang melakukan perjalanan yang sama. Jika saja di awal kita punya investasi tekad yang besar tentu kita bisa melakukan perjalan dengan lebih kreatif dan cepat. Ya, kreatif dan cepat bagi saya adalah keharusan dalam mendirikan startup, dan itu akan muncul dari investasi tekad yang besar.

Jadi, sebelum kita mencari investasi materi untuk startup kita, sudah berapa besar investasi tekad yang kita miliki?🙂

Menampilkan Image di Browser Tanpa Upload

Ketika membuat sebuah website terkadang kita menemui kebutuhan ingin menampilkan image di browser tanpa meng-upload-nya terlebih dahulu. Biasanya ini terjadi di halaman admin ketika ingin membuat sesuatu, misal dalam website e-commerce admin ingin menambahkan produk baru yang menampilkan gambar produk tersebut.

Jika kita hanya membuat input html biasa dengan type file, maka setelah kita memilih file image dari file picker yang dimunculkan browser, yang tampil hanyalah nama file image yang kita pilih, tidak ada preview image-nya. Padahal user akan lebih merasa nyaman ketika dia benar-benar mengetahui file image yang dia pilih tidak salah melalui preview image di web tersebut.

Ada dua pendekatan yang bisa dilakukan untuk menampilkan file image yang dipilih oleh user ke halaman yang sedang ia buka. Pendekatan pertama dengan meng-upload file image tersebut ke server terlebih dahulu (bisa menggunakan ajax kemudian kita akan mendapatkan url image untuk ditampilkan), tapi cara ini akan membuat user menunggu file image selesai ter-upload terlebih dahulu, yang terkadang tidak sebentar. Pendekatan kedua dengan mengambil base64 dari file image tersebut dan meletakkannya di tag img pada html. Yang akan saya bahas dalam tulisan kali ini adalah pendekatan yang kedua🙂

Pada pendekatan kedua ini, kita hanya membutuhkan sedikit pengetahuan tentang javascript dan HTML🙂 Javascript akan kita gunakan untuk membaca file yang dipilih oleh user dan mengubahnya ke base64. Karena javascript dijalankan di sisi clien (browser) maka tentu saja filenya akan diolah secara instan tanpa harus meng-upload-nya ke server terlebih dahulu.

Untuk mencobanya, silakan tambahkan HTML berikut di source yang sudah Anda buat:

<div style="border: 1px solid black; float: left;">
	<img id="preview-image" width="200px" src="#" alt="your image will be placed here" />
</div>
<input type='file' name="input-image" />

Dan tambahkan juga script javascript berikut ini:

<script type="text/javascript">
	function previewImage(input) {
		
		if (input.files && input.files[0]) {
			var fileReader = new FileReader();
			var imageFile = input.files[0];
			
			if(imageFile.type == "image/png" || imageFile.type == "image/jpeg") {
				fileReader.readAsDataURL(imageFile);
				
				fileReader.onload = function (e) {
					$('#preview-image').attr('src', e.target.result);
				}
			}
			else {
				alert("your file is not image");
			}
		}
	}

	$("[name='input-image']").change(function(){
		previewImage(this);
	});
</script>

Image yang Anda pilih akan diubah ke dalam base64 melalui proses fungsi preview image di javascript, dan akan ditampilkan secar instant di tag img dengan “preview-image”.

Cukup sederhana kan, silakan mencoba🙂

*untuk lebih lengkapnya bisa juga unduh contoh lengkapnya di sini

Menulis

Bisa jadi judul tidak berkaitan dengan isinya tapi yang jelas blog ini sudah beberapa tahun ini terasingkan dari pemiliknya. Dan setelah saya ingat-ingat lagi, sepertinya ini akan jadi tulisan pertama saya setelah menikah, dan juga setelah kehadiran Ahza di dunia ini.

Jadi, arah tulisan kali ini mau di bawa ke mana? Tidak dibawa ke mana-mana, hanya mau menjadikan tulisan ini sebagai awal niatan untuk kembali menulis karena dengan menulis berarti kita telah benar-benar menjejakkan sejarah hidup kita. Ya, semoga saja bisa konsisten lagi menulis dan semoga bisa menghadirkan kebermanfaatan. Aamiiin…🙂

Bukankah Abu Jahal juga Seorang Pemimpin?

Abu Jahal, begitulah ummat Islam lebih sering mengenalnya. Nama aslinya sebenarnya cukup indah, ‘Amr Ibnu Hisyam, dan julukan yang diberikan oleh pendduduk Mekah pada saat itu pun cukup bagus, Abu Hakam. Abu Jahal dan Abu Hakam tentunya dua makna yang saling bertolak belakang. Ironi, satu sosok manusia yang sama memiliki dua julukan yang bertolak belakang, tapi pasti keduanya memiliki sebab atas kemunculannya. Jika kita menelisik alasan ummat Islam menjulukinya sebagai Abu Jahal, jelas karena ke-Jahiliyah-annya. Sikap penolakannya yang begitu besar pada kebenaran yang dibawa oleh Islam lah yang menyebabkannya mendapat julukan itu. Namun, tentu julukan Abu Hakam pun memiliki alasan tersendiri. Dan alasan yang paling memungkinkan kenapa Abu Jahal juga dijuluki sebagai Abu Hakam adalah karena kepandaiannya dalam urusan hukum, atau bisa jadi karena kepiawaiannya dalam ilmu pemerintahan di Mekah saat itu.

Yaa, jadi selain begitu bersemangatnya ummat Islam menjulukinya sebagai Abu Jahal maka kita harus jujur mengakui bahwa Abu Jahal punya kemampuan memimpin yang baik hingga orang-orang Mekah pada saat itu pun menjulukinya sebagai Abu Hakam. Sebagai seorang pemimpin saat itu pun Abu Jahal memiliki kemampuan memberi pengaruh yang cukup baik, pandai membuat propaganda. Teringat sebuah kisah ketika Abu Thalib, paman dari rasulullah saw, akan menemui ajalnya. Saat itu rasulullah saw begitu ingin agar pamannya dapat mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun, di sisi lain Abu Jahal bersama karibnya, Abu Lahab, terus memberikan propaganda, “Apakah Engkau akan mengkhianati nenek moyang kita?”. Propaganda itu terus diluncurkan hingga Abu Thalib pun meninggal tidak dalam kondisi muslim.

Memiliki kecakapan dalam pemerintahan dan hukum, serta punya daya pengaruh, bukankah itu cukup untuk menjadi syarat sebagai seorang pemimpin? Yaa, sepertinya jika merujuk pada syarat-syarat tadi, sekali lagi saya harus berlapang dada untuk mengatakan bahwa Abu Jahal juga seorang pemimpin. Namun, Islam tidak hanya ingin menciptakan seorang pemimpin. Apa yang telah rasulullah saw lakukan selama 13 tahun berdakwah di Mekah dan Madinah tidak hanya untuk menciptakan pemimpin ala kadarnya.

Sejak awal, karakterisitik jalan dakwah telah menunjukkan kepada kita bahwa ia tidak selalu hadir dalam kenikmatan, jalan dakwah justru didahului dengan onak dan duri. Bukankah kita sama-sama mendengar, dahulu sebelum Rasulullah saw diturunkan ke tanah Arab, mereka yang berjuang di jalan tauhid terus mendapatkan siksaan. Mereka tak henti meskipun harus disisir menggunakan sisir besi, atau ditarik dua sisi tubuhnya hingga terbelah. Begitupun pada masa rasulullah saw, kita menyaksikan kisah seorang Bilal bin Rabbah yang rela dijemur di tengah terik padang pasir untuk mempertahankan keyakinannya. Dari sini kita bisa menyaksikan bagaiman rasulullah saw telah membentuk para sahabat menjadi pemimpin-pemimpin yang kuat, yang mereka tak mudah takluk oleh kondisi-kondisi yang sulit.

Sebelum Rasulullah saw memberikan paham kenegaraan kepada ummat Islam saat itu, 13 tahun periode Mekah dihabiskan untuk menguatkan pribadi-pribadi ummat Islam, maka wajar jika dahulu shalat malam pernah menjadi hal yang wajib mereka laksanakan, karena kedekatan dengan Rabb-nya benar-benar ingin dibangun pada saat itu. Pada saat itu Rasulullah saw benar-benar memberikan bekal yang tepat untuk para sahabat. Karena bekal itulah yang tidak akan pernah membuat mereka mati dari keislamannya. Dan benar saja, strategi ini cukup ampuh dalam membentuk seorang pemimpin yang tidak ala kadarnya. Perang Khandaq telah mengajarkan kepada kita tentang kesabaran dan ketabahan ummat Islam saat itu. Persediaan makanana yang menipis tidak mematikan keislaman mereka, mereka tetap bertahan dengan kondisi seperti itu. Ancaman dari pasukan kafir quraisy yang bersekutu dengan kabilah-kabilah lain justru semakin menguatkan keimanan mereka. Dan pada saat itulah akhirnya pertolongan Allah turun. Dengan izinnya, badai padang pasir pun telah berhasil membubarkan pasukan kafir quraisy bersama sekutu-sekutunya.

Begitulah Islam, ia tak hanya mengajarkan bagaimana menjadi seorang pemimpin ala kadarnya. Tapi Islam ingin menuntun kita untuk menjadi manusia yang seutuhnya, yang tidak hanya memimpin dengan jasad dan fikriyahnya saja, tapi juga dengan ruh hingga kuatlah pondasi kepemimpinan yang dimiliki olehnya. Dan begitu juga seharusnya ketika kita ingin membentuk kader-kader yang tangguh, tak cukup hanya dengan bermodalkan leadership training, ruh kita pun lebih butuh untuk dilatih agar tetap kuat.

Maka, membentuk seorang pemimpin muslim tidak hanya sekedar bicara bagaimana melatih keterampilannya dalam memimpin dan mempengaruhi tapi bagaimana membangun pondasi yang kuat pada mereka, membangun kedekatan dengan Rabb-nya. Jika tujuannya hanya membentuk manusia yang dapat memimpin dan mempengaruhi, tak perlulah Muhammad saw dijadikan teladan, cukup Abu Jahal yang dijadikan teladan jika hanya untuk itu.

Wallahu a’alam.

Referensi dan Inspirasi:

Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim: Salim A. Fillah

Muhammad saw: Super Leader, Super Manager: Antonio Syafi’i

Jalan Dakwah: Musthafa Masyhur

Bekal Dakwah: Musthafa Masyhur

Shiroh Nabawiyah

Mukena Untuk Ibu

Dua bulan sebelum Ibu meminta dibawakan jilbab dan baju lengan panjang ke rumah sakit adalah dua bulan sebelum Ibu kembali pada-Nya. Dua bulan sebelum Ibu meminta dimasakkan sayur asam, makanan kesukaannya, adalah dua bulan sebelum saat terakhir saya memeluknya. Dua bulan sebelum itu, saya bersikeras agar Ibu tetap sholat meskipun tanpa mukena, meskipun kata Ibu badannya bau karena berkeringat.
Saat itu, Ibu kembali tertidur di ranjang rumah sakit dalam kondisi lemah karena gula darahnya turun drastis setelah malamnya setengah sadar atau bahkan tidak sadarkan diri di rumah. Saat itu, yang saya tau sholat itu wajib dan saya mau Ibu sholat dalam kondisi apapun, meskipun tanpa mukena. Karena menit-menit sebelum itu saya sudah lelah berdebat panjang dengan seorang penjaga masjid rumah sakit yang tidak mau sekedar meminjamkan mukena saja, nanti hilang katanya. Saya berusaha paham dan sangat paham tapi saya tidak tau sebenarnya mana yang lebih penting, menjaga mukena agar tidak hilang atau meminjamkan mukena untuk menyelamatkan seseorang agar tetap bisa sholat.
Sarung. Hanya itu yang ada di dekat Ibu. Jadilah saya meminta Ibu untuk menjadikan sarung disampingnya sebagai mukena, dan jadilah saat itu Ibu sholat menggunakan sarung untuk menutupi kepalanya karena saya tidak berhasil menemukan mukena untuk Ibu.

***

Dua bulan berlalu setelah saya berdebat panjang dengan seorang penjaga masjid. Dan saat itu begitu senangnya saya ketika Ibu meminta dibawakan mukena ke rumah sakit karena mukenanya kotor terkena muntahannya. Oh iya, saat itu adalah keempat kalinya Ibu masuk rumah sakit dalam waktu satu tahun, kali ini Ibu dirawat di ruang HCU (semacam ICU) dan yang boleh menjaga hanya perawat rumah sakit, keluarga menunggu di luar ruangan dan hanya boleh sesekali masuk. Pada saat saya tau Ibu meminta dibawakan mukena, saya sudah terlanjur di kampus. Satu tempat di kampus yang saat itu saya ingat ada mukena baru dan bersih adalah sekretariat SALAM UI di Pusgiwa. SMS pun terkirim ke korwat Mentari SALAM UI, sekedar untuk izin saya meminjam satu buah mukena untuk dibawa pergi. Alhamdulillah boleh..
Beberapa hari setelahnya, Ibu bersikeras meminta pulang, dan saya tau memang seperti itulah Ibu. Meskipun masih banyak kabel menempel di tubuhnya, Ibu bilang ia sudah merasa lebih sehat dan mau pulang. Padahal saya tau untuk makan pun Ibu masih menggunakan selang yang dimasukkan melalui hidungnya. Bapak pun tidak bisa menolak keinginan Ibu.
Hari itu, 20 Oktober 2011, pagi hari sebelum saya berangkat ke rumah sakit, Bapak berpesan bahwa Ibu meminta dibawakan jilbab dan baju lengan panjang. Ibu pun juga meminta untuk dimasakkan sayur asam. Semua permintaannya saya jalankan.
Di rumah sakit, pagi itu, segala hal yang berkaitan dengan administrasi segera diselesaikan agar Ibu bisa pulang. Ibu meminta jilbab dikenakan di kepalanya sebelum keluar dari ruangan, saya dan perawat pun membantu memakaikannya walaupun tidak terlalu rapi. Saat itu saya senang karena tanpa harus saya membujuknya, Ibu sendiri yang meminta dipakaikan jilbab. Kursi roda pun  mengantarkan Ibu sampai ke mobil, Ibu ditidurkan di kursi tengah dan saya juga berada di sana untuk menjaganya.
Saat itu, di dalam mobil, kata Ibu nafasnya sesak dan beliau ingin duduk. Saya pun bantu mendudukkannya kemudian menyandarkan badannya ke saya sembari setengah memeluknya. Saat itu, saya hanya bisa berkata, “sabar ya, nanti Topan beliin oksigen..”. Meskipun saya tau hari itu hari Kamis, dan setiap Kamis sore ada KKI SALAM UI. Yang terpikirkan saat itu, begitu sampai di rumah saya akan segera mencari oksigen dan mengabarkan ke teman-teman di SALAM UI bahwa saya tidak bisa hadir KKI karena saya harus mencarikan oksigen untuk Ibu.
Sampai di rumah nafas Ibu semakin sesak, saya segera sedikit berlari ke luar rumah, entah tiba-tiba ada saja yang memberikan saya kunci motor dan entah juga motor siapa yang saya gunakan. Yang jelas saya membawa motor itu melaju ke puskesmas, mencari oksigen tujuannya. Setelahnya, saya hanya tersenyum ke petugas puskesmas karena saya tidak berhasil mendapatkan oksigen dari sana dan tidak tau lagi harus mencari oksigen ke sana dalam waktu yang tidak banyak. Saya memutuskan kembali ke rumah dengan harapan ada orang lain yang sudah mendapatkan oksigen.
Sejenak motor saya parkir dan matikan. Suasana rumah sudah berbeda, banyak orang luar masuk ke dalam rumah. Saya hanya berusaha memperbanyak prasangka baik pada-Nya. Saya hanya terus melangkah ke dalam rumah, tidak mempedulikan orang-orang di sekitar saya, tidak mau bertanya atau menegur mereka. Di dalam rumah saya pun mendapati Bapak sudah menangis, dan saya tau saya tidak boleh menangis, saya hanya memeluk dan menenangkannya sebelum akhirnya masuk ke kamar dan mencium kening Ibu meskipun saya tau saat itu Ibu sudah tidak bisa merasakan kecupan saya di keningnya. Saya tau, setelah ini saya tidak bisa lagi menyandarkan badan saya ke Ibu ketika saya lelah, dan saya pun tidak akan pernah lagi mendengar suara Ibu yang meminta dipijat punggung atau bahunya karena lelah seharian mengerjakan pekerjaan dapur. Tapi saya tau, inilah cara Allah mengabulkan doa saya. Saya selalu berdoa agar Dia segera mengangkat penyakitnya. Dan benar, pada hari itu Dia angkat penyakitnya namun beserta dengan ruhnya. Saya ikhlas.
Hari itu hari Kamis, jadwal KKI. Saya tidak jadi mengirimkan kabar bahwa saya tidak dapat hadir KKI sore itu, saya memberi kabar yang lain ke teman-teman di SALAM UI dan memang seperti itulah kabar saya. Berharap dengan itu mereka tau dan paham jika sore nanti saya tidak hadir KKI.

***

Tanggal 20 Oktober 2011 adalah 2 hari kemarin, karena tertanggal 22 Oktober 2011, di mana pada saat itu saya sudah menjejakkan kaki di bandara Soekarno Hatta. Satu hari sebelum itu saya ada di tengah selatan pulau Jawa, mengantarkan Ibu sampai ke liang lahat. Singkat dan cepat. Apa yang harus saya lakukan tanggal 22 Oktober ini pun harus tetap saya lakukan. Ini sebuah kebaikan, dan bagi saya kebaikan itu tak boleh berhenti, ia harus tetap berjalan. Dan mungkin inilah hikmah yang Allah berikan. Allah memberikan saya ruang di SALAM UI, dan melalui inilah saya terus berbuat kebaikan dari satu titik ke titik lainnya. Dan ini mungkin cara Allah, melalui kuasa-Nya juga hanya selang satu hari setelah tanggal 20 Oktober itu, sebuah kebaikan menghantarkan saya ke Thailand. Dan saya yakin, ini cara Allah untuk mencegah saya bersedih terlalu lama dan ini cara Allah untuk tetap menghantarkan saya dari satu kebaikan menuju kebaikan lainnya. Dan saya tau bahwa saya harus terus berbuat baik.

***

Dan hari ini, saya masih mau terus berbuat baik untuk Ibu. Tidak hanya sekedar mencarikan mukena atau oksigen untuknya. Hari ini, saya hanya ingin menjadi anak sholeh yang terus mendoakannya hingga nanti suatu saat tak bisa lagi doa saya lantunkan. Dan sampai pada saat itu, saya masih sama, saya masih anak dari Ibu saya, masih tetap sebagai anak sholeh dari Ibu saya.

Lakukan saja kebaikan yang bisa kita lakukan sekarang kemudian biarkan saja Allah yang melanjutkan sekenario cerita kehidupan kita selanjutnya. Tentang kita, Bapak, Ibu, dan semua yang ada di sekitar kita, teruslah berbuat baik.