Jangan Sampai Hanya Awalnya Saja Karena Allah

24 05 2011

Beramal itu seperti petani yang sedang menanam padi. Setiap seorang petani menanamkan satu bibit padi di ladangnya maka ia seperti seorang muslim yang sedang menanam kebaikan. Seorang petani akan terus merawat padi-padinya hingga besar dengan tujuan dan harapan yang satu, yaitu mendapatkan butir-butir beras yang unggul. Petani ini akan menjaga dan merawat padinya hingga musim panen tiba. Di kala musim panen tiba bahagialah ia karena butir-butir beras itu akan begitu berkilau indah di matanya karena harap dan tujuannya telah tercapai.

Dalam perjalanan merawat dan membesarkan padi-padinya, seorang petani juga bisa memelihara belut di sawahnya hingga akhirnya ia mendapatkan dua keuntungan dari ladangnya, yaitu padi dan belut. Namun, di sinilah tantangan seorang petani, apakah ia sanggup tetap fokus pada harap dan tujuannya untuk melihat butir-butir beras yang berkilau atau fokusnya akan teralihkan pada belut-belut yang ia pelihara. Jika saja fokusnya tetap pada padi-padinya maka ketika masa panen tiba ia akan fokus untuk memetik padi-padinya dan sesekali mendapatkan belut yang ada di sekelilingnya. Namun, jika fokusnya beralih pada belut maka saat masa panen tiba ia akan menyibak-nyibak sawahnya dan memanen banyak belut. Lalu bagaimana dengan padinya? Ya, jelas padinya akan mati dan hancur terinjak-injak.

Begitulah seorang muslim, ia dapat beramal kapanpun karena ladang amal terhampar dengan luas di hadapannya. Ia tinggal butuh kemauan untuk masuk dan berkecimpung dalam ladang amal tersebut. Di sana ia bisa menanamkan begitu banyak bibit kebaikan. Kemudian ia akan merawatnya, membesarkannya, dan berharap pada tujuan yang satu, yaitu Allah swt meridhoi segala apa yang ia perbuat. Namun, di tengah perjalanannya merawat bibit-bibit kebaikan tadi, Allah swt ingin tau seberapa besar kesungguhannya dalam mencintai Rabb-nya. Mungkin Allah akan memberinya banyak peluang ‘nikmat sampingan’. Seorang da’i yang pandai berbicara akan diberikan nikmat manusiawi berupa tampilan wajah-wajah yang tersentuh hatinya karena apa yang ia sampaikan. Seorang da’i yang punya segudang prestasi akan diberikan nikmat manusiawi berupa perbincangan-perbincangan orang tentang kehebatan dirinya serta wajah-wajah yang terpukau akan keluarbiasaannya. Seorang da’i lain yang begitu merdu suaranya akan diberikan nikmat manusiawi berupa mahluk-mahluk Allah yang ‘kesengsem’ dengan indah suaranya. Jika saja seorang da’i teralihkan fokusnya pada nikmat-nikmat sampingan tadi, jadilah ia seperti seorang petani yang menghancurkan padi-padinya demi beberapa ekor belut. Dan seorang da’i, mungkin dia akan menginjak dan menghancurkan nama Allah demi sebuah ketenaran, perbincangan hebat tentang dirinya, dan manusia-manusia yang kesengsem. Dan dalam hatinya, mungkin nama Allah tidak akan lagi menggema lebih hebat daripada pujian-pujian tentang dirinya.

Jangan sampai hanya awalnya saja karena Allah namun akhirnya tanpa terasa kita telah berkubang dalam buaian-buaian dunia.

Advertisement

Actions

Information

2 responses

19 09 2011
nuraeni

maka kita harus segalanya karena ALLAH..:)

25 10 2011
saya sendiri

nice post.. terimakasih sudah mengingatkan :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.