“Berikan aku 10 pemuda maka akan kuguncang dunia” – Ir. Soekarno
Di tepian asa bangsa ini masih ada para pemuda yang mau menyokong cita yang hampir saja mulai menguap. Begitulah kiranya saya mencoba berbaik sangka pada para pemuda bangsa ini. Tidak bermaksud menjadi tua karena saya pun masih berkepala dua tanpa uban. Paling tidak ini menjadi optimisme diri pada tonggak cita yang ingin saya capai, bersama bangsa ini tentunya.
Begitu besarnya peran pemuda pada sebuah perubahan, sampai-sampai Bung Karno pernah mengatakan “Berikan aku 10 pemuda maka akan kuguncang dunia”. Bukan perkataan yang main-main saya pikir. Berasal dari pemudalah tokoh-tokoh besar dunia kemudian tercipta dan berasal dari pemuda pula kelak penghancur dunia bermunculan. Apa yang dilakukan pemuda hari ini menjadi cerminan sebuah bangsa di masa yang akan datang. Seperti tunas yang menjadi bakal penentu rapuh atau kokohnya suatu pohon kelak.
Bicaralah pada Indonesia, tidak semua pemudanya memiliki nasib yang baik. Menurut data Biro Pusat Statistik, pada tahun 2009 hanya 12,72 % pada usia 19 – 24 tahun dari seluruh penduduk di Indonesia yang mengenyam pendidikan. Artinya, tidak banyak pemuda yang berkesempatan mengenyam pendidikan kampus sebagai sekolah bangsa. Mengapa sekolah bangsa? Karena bagi saya kampus merupakan miniatur bangsa ini.
Kampus tidak hanya berisi ruang-ruang kelas penuh teori-teori sosial ataupun rumus-rumus ‘menakutkan’. Kampus juga melingkari ruang-ruang sekretariat lembaga, lapangan-lapangan olahraga, ataupun sarana-sarana kesenian. Kampus menyediakan hampir seluruh miniatur bangsa ini dengan beragam kehidupannya. Dari kampuslah banyak pemimpin (baik maupun buruk) bangsa ini lahir dan dari kampus jugalah bermunculan manusia-manusia spektakuler.
Mereka yang kini menjadi spektakuler, 20 atau 30 tahun yang lalu sama seperti kita saat ini, menyandang status sebagai mahasiswa. Mereka yang korupsi triliunan rupiah, sama juga seperti kita saat usia mereka lebih muda 20 atau 30 tahunan. Bahkan mereka yang kini ada di balik jeruji besi pun 20 atau 30 tahun yang lalu sama seperti kita, sama-sama mahasiswa. Kita memiliki segala potensi manusia di 20 atau 30 tahun yang akan datang, baik maupun buruk, tinggal bagaimana kita mau atau tidak memanfaatkan sekolah bangsa ini.
Terlalu sayang menjadi 12,72 % manusia spesial tanpa melakukan hal spesial. Bagi saya tidak ada tindakan spesial dalam diam bahkan kemunduran. Berdalih tidak mengusik apapun dengan diam dan tidak berkontribusi, bagi saya persiapan menghancurkan bangsa ini. Jika hari ini kita hanya diam dan yang lainnya berlari, bukankah itu hanya membiarkan jarak semakin merentang jauh? Membiarkan bangsa ini semakin habis nafasnya mengejar ketertinggalan. Diam bisa jadi persiapan menghancurkan bangsa ini.
Sekolah bangsa ini menyajikan ruang-ruang untuk berkontribusi, menyediakan pupuk untuk menjulangkan potensi mahasiswanya. Memang, pupuk terkadang berbau tak sedap, tapi dari sanalah akhirnya menjulang pohon yang kokoh. Kontribusi pun kadang melelahkan namun dari sanalah potensi-potensi kita akan menjulang tinggi. Ruang kontribusi itu menyajikan baunya masing-masing, saat ini hanya khusus tersedia bagi 12,27 % manusia spesial, sisanya menahan iri pada bau-bau itu. Berharap kelak semakin banyak kuota untuk manusia spesial, kuota itu bisa bertambah jika 12,27 % manusia spesial saat ini mau berbau-bau dalam pupuk kontribusi.
Merasa sebagai mahasiswa? Bayangkan saja apa yang akan Anda lakukan 20 atau 30 tahun yang akan datang, membangun atau menghancurkan bangsa ini?
wah, ‘menampar’ sekali untuk seorang saya yang belum banyak berkontribusi, malah lebih sering memaklumi
Ayah saya juga memberitahukan tentang kutipan yang sama!