Coba lihat perempuan yang satu itu, semua pria akan terpesona jika memandangnya pada pandangan pertama. Sang Penciptanya telah memberikan kecantikan yang aduhai pada fisiknya. Senyumnya begitu meneduhkan tiap kegalauan, bicaranya sangat menenangkan hati yang resah, dan tatapan matanya memancarkan rasa perhatian yang menyejukkan pada tiap jiwa yang ditatapnya, duh cantiknya..
Sekarang coba lihat perempuan lain yang satu ini, prestasi akademiknya luar biasa, IPK-nya dahsyat di atas 3.5! Kecermelangannya selalu tampak dalam setiap perlombaan yang dia ikuti. Mendengar namanya memenangkan sebuah perlombaan sudah hal yang tidak asing lagi, luar biasa!
Tapi masih ada perempuan lain di sudut sana, seribu aktivitas tak mematahkan semangat dalam dirinya. Idealisme tertanam dengan begitu kuat dalam jiwanya. Satu langkah kecil yang ia lakukan saat ini baginya untuk seribu langkah membangun peradaban bangsa yang lebih baik. Jangan heran jika namanya begitu banyak tercantum dalam berbagai pergerakan, oraganisai, kepanitiaan, atau hal lain yang sejenisnya, dahsyat!
Sebuah kewajaran jika seorang lelaki tertarik dengan keistimewaan perempuan, karena itulah sebuah fitrah yang telah ditanamkan dalam diri setiap lelaki, sebagaimana dahulu manusia pertama bernama Adam memiliki ketertarikan dengan Hawa. Dan ketika seorang lelaki memutuskan untuk melengkapi ½ agamanya maka bagi saya hal itu bukanlah sekedar mencari istri yang cantik, berprestasi, ataupun seoarang aktivis idealis. Lebih dari itu melengkapi ½ agama bagi saya adalah sarana untuk membangun peradaban, karena membangun peradaban dimulai dari elemen terkecil, setelah membina diri sendiri tentu selanjutnya adalah membangun sebuah keluarga, dan membangun sebuah keluarga akan dimulai dari menentukan istri yang nantinya akan menjadi Ibu dalam keluarga tersebut. Islam-pun memandang betapa pentingnya peran seorang Ibu dalam sebuah keluarga.
Dari Abu Hurairah dia berkata telah dating kepada Rasulullah saw seorang laki-laki lalu bertanya: “Wahai Rasulullah siapakah yg lbh berhak untuk saya pergauli dengan baik?” Beliau menjawab “Ibumu” dia bertanya lagi “Kemudian siapa?” Beliau menjawab “Ibumu” dia bertanya lagi “Kemudian siapa?” Beliau menjawab “Ibumu” dia bertanya lagi “Kemudian siapa?” Beliau menjawab “Ayahmu”.
Maka pesan saya untuk Big, Jay, Nunug, dan semua saudara saya yang ingin mencari istri, carilah istri yang bisa menjadi seorang ibu, yang tidak hanya cantik rupawan, yang tidak hanya berprestasi dalam akademis, atau seorang aktivis yang sangat idealis, tapi yang terpenting dia benar-benar bisa menjadi seorang ibu yang penuh cinta dan kesabaran. Sayang sekali jika gen luar biasa yang nantinya akan menurun dalam diri anak-anak kalian tidak dipadukan dengan cinta dan kesabaran seorang ibu hingga terbentuklah seorang anak yang dibesarkan dengan cinta dan ditarbiyah dengan kesabaran.
Dan pesan saya untuk calon-calon istri dari Big, Jay, Nunug, dan semua saudara saya maka terus bersiaplah hingga kalian benar-benar pantas mendapat gelar dan panggilan sebagai seorang Ibu. Hingga 3 kali keutamaan seorang Ibu benar-benar menjadi sanjungan Islam yang tepat pada diri kalian.
Wallahu a’lam.
nama yg disebut cuma 3 nih kak? ada apa gerangan?
terus bersiaplah hingga kalian benar-benar pantas mendapat gelar dan panggilan sebagai seorang Ibu.
ayo yang akhwat, pada belajar ya!
ih parah,,
biasanya yang sebut2 nama orang lain untuk suatu hal padahal dirinya sendiri lho yang kepengen,,dah pan ngaku aja lah,,
ane mah siap2 ngalah, ga mau ngedahuluin nt dulu, pamali ntar :p
@zana
tadinya mau nyebutin banyak tapi ntar jadi kepanjangan, terus kayaknya enaknya aja naro 3 nama itu di situ jadi ya udah ditulis aja, lagian 3 orang itu satu ‘lahan kerja’..
@jay
biasanya yang sebut2 nama orang lain untuk suatu hal padahal dirinya sendiri lho yang kepengen,,dah pan ngaku aja lah,,
teori kayak gitu belom pernah dibuktikan jay, tapi seandainya teori itu betul, di komen nt kan nyebut ane yang pengen maka jadinya nt yang pengen karena akan berbalik lagi..
ane mah siap2 ngalah, ga mau ngedahuluin nt dulu, pamali ntar :p
kita kan nanti satu gedung, satu katering, satu tanggal, satu kepanitiaan biar hemat, tapi yang penting insya Allah beda calon..
nasihat yang bagus topan.. makasi
hh… entah kenapa animo orang2 makin sering aja ngomongin hal ini.. -_-’
sepertinya 3 nama orang yang disebutin mengandung unsur mencurigakan.. hehe
@Topan: o ya bener juga pan kita kan dah janjian satu gedung ya haha..
@Fitri: huss jangan berpikiran macam-macam fitri, 3 nama itu mah cuma pikiran isengnya si Topan, jangan dianggap serius
@fitri
setau saya 3 nama itu gak ada apa2 kok fit tapi gak tau juga kalo ternyata mereka diem2 aja.. itu cuma kebetulan aja yang muncul di kepala 3 nama itu..
hmm.. kalo untuk pembicaraan2 seperti ini positifnya bisa mengingatkan kalo ternyata kita udah semakin tua dan bisa jadi semakin dekat dengan masa2 itu.. menggenapi setengah agama bagi saya bukan sesuatu yang main2 jadi emang butuh persiapan dari sangaaat jauh hari, dan hal2 seperti ini emang jangan sampai hanya memunculkan tawa dan candaan tapi evaluasi diri sudah seberapa siap kita menghadapi masa itu, berkaca juga pada target yang sudah kita pancangkan..
ckck yang di atas saya kayaknya dah siap banget dah jadi calon suami yang kebapakan,,
nt kalo mau nyari yang keibuan, insyaAllah klo ane kenal ane kenalin deh ke nt pan (lho kq jadi nyomblangin gini)
ckckck
@jay
kembali ke teori nt yang belum terbukti..
@inasakamila
…
waduuuh.. sangat menohok ini tulisannya.. >,<
perasaan saya masih muda, tapi gapapa makasih kak udah diingetin hal beginian, hahahaa xD
well, jadi ibu yang baik itu tidaklah mudah, bukan seperti gugling nyari tutorial "how to be a good mother", ga ada pendidikan formal untuk belajar jadi ibu, jadi belajar mempersiapkannya yaaa mungkin autodidak, langkah pertama mungkin bisa nanya-nanya sama ibu kita masing2, hehe..
oke lah, semoga 3 orang yang udah disebut di atas, termasuk yg nulis postingan ini diberi istri yg sholihah sesuai harapan yang bisa menjadi ibu yg baik di keluarganya nanti
mumpung masih muda de jadi masih ada waktu buat memperispkan diri..
hh… entah kenapa animo orang2 makin sering aja ngomongin hal ini.. -_-’
bener tuh fit, apa yg diomongin g jauh2 dari apa yg dipikirin orang tsb.
~kl nt mau pembuktian teori ini kayanya g sulit lho Top…
@sani
berarti semua orang yang komen di sini juga berpikir seperti itu ya, soalnya pada bisa buat ngomenin hal seperti ini..
Ibu saya pernah cerita, waktu sebelum menikah belum jago masak, dll.. yg intinya belum maksimal…. Namun semua itu berubah di saat status berubah menjadi seorang istri, di saat muncul anak mungil pertama (abang saya, dan lalu saya)… Yang namanya anak tetap dinomor satukan, biarkan anak2nya makan ikan-ayam sedangkan orang tua cuma makan tempe-tahu.. Akhirnya jadilah ibu yang sabaar banget, nangis dipelukan ibu dasyatnya tiada tara saat si anak sedang menghadapi masalah… Kebetulan ibu saya anaknya banyak, bukan hanya saya dan abang tetapi juga di sekolah… sifat keibuan itu adalah proses & pembelajaran dari peran seorang istri/orang tua…
Jadi saya percaya, aura seorang ibu yang keibuan itu akan lebih terpancar disaat sudah berstatus menjadi ibu rumah tangga, namun tak ada salahnya mulai memilih yang terbaik sebelum menikah.
~ko jadi serius bgt ??? hehehe
kok kayaknya nama ane disebut-sebut, ada apa gerangan….
Insya Allah pan, ane cari wanita yang siap menjadi Ibu yg baik, yang siap menjadi madrasah pertama bagi anaknya (dan madrasah selamanya bagi suaminya :p )
Mohon doanya pan, kalo ente enak pan, udah ada, kalo ane belum ada yang mau nih, cariin dong pan? hehe
sepakat. cari yang bisa megang peran : 1. Mar-ahtusshalihah (wanita yang solehah), 2. Zaujatu Muthiah (istri yang taat), dan 3. Ummul Madrosah (Madrosah pertama bagi anak2nya)
@deraisa
betul mba..