Sudah hampir setahun yang lalu ketika senja mulai tampak di Khawarizmi. Suasana menjadi jingga dan semakin redup, penuh kekhusyukan dan perenungan. Langit hanya membisu, menunggu pelampiasan asa datang menemuinya. Rintikan hujan sesekali datang menghabiskan awan yang ditinggalinya hingga mulai tampaklah pancaran langit yang sesungguhnya.
Sunyi, senja menunggu malam menjemput pagi, mencari bintang yang bersedia menemui fajar. Setahun yang lalu bintang itu masih bersembunyi bersama bintang-bintang yang lain. Mengintip dari keredupan senja berharap ia tak menjadi yang paling terang. Tapi entah dengan apa mereka memandang, dari mana mereka memandang, dan apa sebenarnya yang mereka pandang. Persembunyiannya sia-sia, di mata mereka ia menjadi yang paling terang.
Sejak saat itu bintang harus mengawal malam menemui fajar. Ketika bintang yang lain lelah dengan pancaran sinarnya, sedikitpun ia tak boleh meredupkan sinarnya. Ketika bintang yang lain tertutup pancarannya karena awan maka ia harus memaksa awan mengeluarkan rintik hujannya agar terlihat kembali sekumpulan pancaran bintang. Ia tak pernah tau apakah ia akan berhasil menemui fajar, apakah ia akan berhasil menampakkan pagi yang cerah. Walaupun dengan itu ia harus rela pancarannya tak akan terlihat lagi. Yang ia tau, ia harus tetap menjaga pancaran sinarnya hingga ia berhasil menemui fajar.
Ternyata waktu begitu melenakan. Sejenak bintang menyempatkan waktu untuk memejam, mencari helaan nafas yang seharusnya tidak ia lakukan. Ia terlena hingga terik siang menyadarkannya. Ia tak tau apakah ia telah menemui fajar, apakah ia sempat mendengarkan lantunan doa anak sholeh di waktu fajar, dan apakah ia sempat mendengarkan merdunya nyanyian burung di pagi yang cerah. Yang ia rasakan hanya terik siang yang memadamkan pancarannya, tak ada lagi yang dapat melihat sinarnya, ia begitu samar. Namun, ia tau, seredup apapun pancarannya, ia harus dapat mempertahankannya.
Terik siang harus tetap ia lewati. Tak mungkin ia hentikan langkahnya karena senja telah menantinya. Mungkin ia tak berpeluh karena ia tau peluhnya hanya akan meredupkan pancaran bintang yang lain. Andaikan ia bisa bertahan tanpa helaan nafas, maka ia akan menghentikan nafasnya karena itu hanya akan menampakkan sebuah keletihan yang panjang. Langkahnya tak jauh lagi, dibalik siluet bumi tampak senja telah menyembulkan wujudnya.
Kini, senja kembali hadir di Khawarizmi, ia kembali mencari bintang yang bersedia menemui fajar.
Posted by topan bayu
Posted by topan bayu
Posted by topan bayu