23
Nov
09

Loreng-loreng Beriman

Malam ini sebenarnya niat pulang jam setengah 7 biar kebagian sholat isya jama’ah di mushola dekat rumah. Tapi ternyata baru bisa balik dari kampus jam 7 kurang 15, ada keperluan dulu yang menunda pulang. Perjalanan ke rumah sekitar 20 menit jadi saya sudah yakin pasti tidak sempat sholat isya berjama’ah di mushola dekat rumah. Di tengah perjalanan pun adzan berkumandang, tepatnya ketika saya sedang melewati komplek tentara. Ya sudahlah saya berhenti dulu di masjid biar bisa sholat berjama’ah.

Masjid yang satu ini hampir tiap pagi dan sore/malam saya lewati tapi saya tidak pernah terlalu memperhatikan nama masjid ini, yang pasti masjid ini ada di komplek tentara dan yang sholat pun banyak tentara. Malam ini pun suasana masjid cukup unik, biasanya jama’ah masjid identik dengan pakaian putih-putih tapi malam ini nuansa loreng mewarnai tiap sudut religi masjid. Jadilah saya sholat di antara para tentara, di antara nuansa loreng yang tak biasa, dan di antara rambut-rambut cepak yang menggertak.

Selesai sholat imam melakukan dzikir, semua tentara masih terduduk, tidak ada yang beranjak pergi. Mungkin seperti inilah tentara, tidak akan bergerak sebelum ada intruksi. Di tengah lantunan dzikir imam saya iseng bertanya ke salah seorang tentara.

Saya: “Mas, ini pada abis latihan ya?”
Tentara: “Iya”
Saya: “Tiap waktu sholat istirahat?”
Tentara: “Iya, latihan dari pagi sampe jam 11 terus istirahat dzuhur, latihan lagi sampe jam 4 terus sholat ashar..”
Saya: “Wuihh, keren.. Tiap hari kayak gini Mas?”
Tentara: “Iya, kalo lagi latihan di sini sholatnya selalu di masjid tapi kalo latihan di luar ya sholatnya di luar..”

Obrolan terus berlanjut sampai lantunan dzikir imam terhenti dan para tentara pun beranjak pergi dari tempatnya menuju halaman masjid. Dari teras masjid saya bisa melihat para tentara berbaris di halaman. Satu per satu baris kemudian pergi meninggalkan masjid dengan teratur, suasana religi masjid pun kembali sepi, menunggu nuansa loreng hadir kemabali di kumandang adzan berikutnya.

Begitulah tentara. Jika ditanya jama’ah mana yang paling disiplin saat ini, mungkin jawabannya jama’ah tentara. Jika ditanya jama’ah mana yang paling taat pada pemimpin saat ini, mungkin jawabannya juga tentara. Dan jika ditanya jama’ah mana yang paling bangga dengan identitasnya di manapun ia berada, mungkin jawabannya juga jama’ah tentara.

Saya cukup salut dengan jadwal latihan yang diterapkan pada jama’ah tentara yang satu ini. Setiap panggilan ilahi berkumandang maka saat itu juga semua tentara berhenti latihan dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Tidak hanya pada waktu-waktu sholat tertentu, tapi ini dilakukan pada setiap waktu sholat, di setiap harinya. Subhanallah… Memang sudah selayaknya setiap jadwal yang kita buat haruslah menyesuaikan dengan jadwal panggilan yang telah ditetapkan Ilahi, bukan kita memaksa-Nya untuk menyesuaikan panggilan-Nya dengan jadwal kita, bukan juga kita selalu memakasa-Nya untuk menunggu kita memenuhi panggilan-Nya setelah usai seluruh aktifitas dunia kita. Hmm.. Kapan ya setiap aktifitas kita bisa seideal ini?

12
Nov
09

Stasiun Transit

Sudah hampir setahun ini deru nafas terus berpacu dengan waktu, seakan tak ingin menghentikan nafas dan membiarkan waktu terus berlalu. Sungguh berharganya nafas ini, tak hanya sebagai pemenuh kebutuhan hidup atau sekedar memenuhi tuntutan alveolus. Nafas adalah sebuah modal, modal untuk terus menggerakkan kereta da’wah FUKI hingga sampai waktunya ia tiba di sebuah pemberhentian. Bukan untuk menghentikan sebuah perjalanan, namun kereta ini kelak akan berhenti untuk mencari dan membawa mereka yang bersedia bernafas bersama da’wah.

Kini belum saatnya bagi kita untuk melangkah keluar dari kereta ini karena masih ada perjalanan senja yang harus kita lewati sebelum matahari benar-benar tenggelam. Kereta ini masih membutuhkan hembusan nafas dari para pejuangnya untuk melewati pekat dan terang jalan-Nya dalam rangka menyemai benih-benih kebaikan di setiap ladang amal yang dilaluinya.

Perjalanan ini terkadang memang terasa panjang, seolah tak ada ujung yang akan dicapai. Namun, di sinilah keikhlasan kita diuji, apakah kita termasuk orang-orang yang selama ini ikhlas dalam beramal ataukah kita termasuk orang-orang yang akan menyerah dengan panjangnya perjalanan. Seharusnya cukup hanya Allah sajalah yang menjadi alasan kita untuk melalui jalan ini, sebuah alasan abadi yang tak akan punah oleh panjangnya perjalanan.

Kelelahan dalam mengarungi perjalanan ini adalah suatu kewajaran dan peluh yang terus menetes pun tak dapat kita elakkan. Berkali-kali keluh pun pernah bertamu ke dalam hati kita, menjadi penggoda atas pondasi keikhlasan yang sedang kita bangun. Tak cukup waktu yang singkat untuk menceritakan setiap peluh yang pernah hadir, tapi biarkan saja ia bermutasi bersama keikhlasan hati yang akan bermanifestasi menjadi tiket untuk mengiringi kita menuju syurga-Nya.

Kawan, kereta da’wah FUKI tak lama lagi akan menemui salah satu stasiun pemberhentiannya, sebuah stasiun transit yang akan membawa sebagian penumpangnya dan menurunkan sebagian yang lainnya. Ia akan berhenti sejenak di sana, mengizinkan kita melangkah keluar bersama sisa-sisa mimpi kita yang belum terukir karena di sana kelak akan ada mereka yang menunggu untuk menggantikan kita. Namun, langkah kaki kita saat keluar dari kereta itu bukanlah langkah untuk meninggalkan da’wah ini. Perjalanan kita bersama kereta da’wah FUKI mungkin akan berakhir, tapi masih ada kereta-kereta lain yang akan berangkat dari stasiun transit ini, yang akan membawa kita melanjutkan perjalanan ke stasiun selanjutnya dan mengajak kita untuk mengukir sisa-sisa mimpi kita untuk ketinggian Islam.

Sejatinya da’wah FUKI tidak akan berhenti dengan keluarnya kita dari kereta itu karena akan ada masinis dan penumpang baru yang akan melanjutkan perjalanannya. Tentu kini menjadi tanggung jawab kita, untuk memastikan bahwa kelak adik-adik kita akan siap melanjutkan estafet da’wah yang telah kita bangun, sehingga ketenangan mengiringi langkah kaki kita saat keluar dari kereta itu.

Generasi yang baik adalah yang mampu menciptakan generasi selanjutnya yang lebih baik dan semoga Allah mengizinkan kita menjadi salah satunya…

Suatu saat nanti mungkin kereta ini akan usang, tapi tidak dengan mimpi-mimpi kita…

11
Oct
09

Senja di Khawarizmi

Sudah hampir setahun yang lalu ketika senja mulai tampak di Khawarizmi. Suasana menjadi jingga dan semakin redup, penuh kekhusyukan dan perenungan. Langit hanya membisu, menunggu pelampiasan asa datang menemuinya. Rintikan hujan sesekali datang menghabiskan awan yang ditinggalinya hingga mulai tampaklah pancaran langit yang sesungguhnya.

Sunyi, senja menunggu malam menjemput pagi, mencari bintang yang bersedia menemui fajar. Setahun yang lalu bintang itu masih bersembunyi bersama bintang-bintang yang lain. Mengintip dari keredupan senja berharap ia tak menjadi yang paling terang. Tapi entah dengan apa mereka memandang, dari mana mereka memandang, dan apa sebenarnya yang mereka pandang. Persembunyiannya sia-sia, di mata mereka ia menjadi yang paling terang.

Sejak saat itu bintang harus mengawal malam menemui fajar. Ketika bintang yang lain lelah dengan pancaran sinarnya, sedikitpun ia tak boleh meredupkan sinarnya. Ketika bintang yang lain tertutup pancarannya karena awan maka ia harus memaksa awan mengeluarkan rintik hujannya agar terlihat kembali sekumpulan pancaran bintang. Ia tak pernah tau apakah ia akan berhasil menemui fajar, apakah ia akan berhasil menampakkan pagi yang cerah. Walaupun dengan itu ia harus rela pancarannya tak akan terlihat lagi. Yang ia tau, ia harus tetap menjaga pancaran sinarnya hingga ia berhasil menemui fajar.

Ternyata waktu begitu melenakan. Sejenak bintang menyempatkan waktu untuk memejam, mencari helaan nafas yang seharusnya tidak ia lakukan. Ia terlena hingga terik siang menyadarkannya. Ia tak tau apakah ia telah menemui fajar, apakah ia sempat mendengarkan lantunan doa anak sholeh di waktu fajar, dan apakah ia sempat mendengarkan merdunya nyanyian burung di pagi yang cerah. Yang ia rasakan hanya terik siang yang memadamkan pancarannya, tak ada lagi yang dapat melihat sinarnya, ia begitu samar. Namun, ia tau, seredup apapun pancarannya, ia harus dapat mempertahankannya.

Terik siang harus tetap ia lewati. Tak mungkin ia hentikan langkahnya karena senja telah menantinya. Mungkin ia tak berpeluh karena ia tau peluhnya hanya akan meredupkan pancaran bintang yang lain. Andaikan ia bisa bertahan tanpa helaan nafas, maka ia akan menghentikan nafasnya karena itu hanya akan menampakkan sebuah keletihan yang panjang. Langkahnya tak jauh lagi, dibalik siluet bumi tampak senja telah menyembulkan wujudnya.

Kini, senja kembali hadir di Khawarizmi, ia kembali mencari bintang yang bersedia menemui fajar.

12
Aug
09

Angin-angin Bunga

Waktu saya kecil, seringkali saya berpikir kenapa nama saya topan. Saya pikir itu nama yang aneh. Sebuah fenomena alam dijadikan nama bagi seorang bocah kecil yang ingin tampil keren. Dan saya selalu berpikir nama itu akan mengurangi nilai keren bagi si bocah kecil. Bahkan pernah suatu kali saya menanyakan ke bapak saya, kenapa nama saya bukan “saint seiya” (dulu film ini sedang populer), saya pikir itu nama yang lebih keren, nama seorang pahlawan yang bisa mengeluarkan jurus-jurus sakti. Tapi bapak saya tidak pernah berpikir untuk mengganti nama saya menjadi “saint seiya” atau yang lainnya, mungkin repot karena harus menyiapkan bubur merah. Bapak saya pernah mengatakan bahwa beliau mengagumi Bung Karno dan nama topan itu diambil dari nama salah seorang putra Bung Karno yang meninggal pada usia muda, walaupun saya sendiri belum pernah menemukan riwayat putra Bung Karno yang bernama topan. Tapi kenapa harus nama putra Bung Karno yang meninggal muda yang dijadikan nama anaknya ini? Entahlah..

Semakin bertambah usia, saya semakin bisa menerima kenyataan bahwa nama saya topan walaupun harus sering terdampar di absen-absen buncit. Bagi saya absen buncit beberapa kali memberi pengalaman tidak mengenakkan. Pernah suatu kali saya tidak mendapatkan buku pinjaman dari sekolah karena absen buncit ini. Setiap siswa dipanggil berdasarkan absen untuk diberikan buku pinjaman, karena saya ada di absen buncit maka ketika dipanggil stok buku sudah tidak mencukupi, betapa malangnya nasibmu nak.. Sering juga ketika pengambilan nilai olahraga saya harus rela bosan menunggu giliran dipanggil, lagi-lagi karena absen buncit.

Sekarang saya sudah semakin berumur dan tentunya penerimaan terhadap nama ini semakin besar, hati ini harus semakin lapang. Saya yakin nama “Topan Bayu Kusuma” adalah nama yang keren walaupun saya belum benar-benar mengerti kenapa bapak saya memeberikan nama ini. Topan memiliki arti angin, Bayu juga memiliki arti angin, dan Kusuma memiliki arti bunga, jadi kalau digabungkan menjadi “Angin-angin Bunga”. Arti nama yang agak kemayu bagi seorang laki-laki. Tapi sekali lagi saya yakin ini nama yang keren! Saya juga yakin bapak saya tidak main-main ketika memberikan nama ini, pasti beliau mempunyai harapan di balik nama ini. Mungkin beliau ingin anaknya menjadi seperti angin yang tegar melewati setiap jalannya namun tetap punya kelembuatan layaknya sekuntum bunga, atau mungkin bapak saya ingin anaknya bisa menjadi angin yang selalu dapat memberi kesejukkan seharum wangi bunga bagi setiap insan yang dilaluinya. Atau jika saya kembali mencari-cari lagi mungkin bapak saya ingin anaknya bisa sekuat angin topan namun tetap lembut ketika harus menemui bunga, atau masih banyak mungkin-mungkin yang lainnya. Yang jelas, saya pikir dengan nama ini bapak saya tidak bermaksud menjadikan saya sebagai lelaki pengantar bunga. :)

Sebuah nama pasti mempunyai sebuah arti, mereka yang mencintai kitalah yang memberi kita nama, menaruh harapan dalam setiap nama itu. Ketika kita hanya bisa menangis, tersenyum, dan tertawa, mereka memandangi setiap detail wajah kita, membayangkan masa depan kita melalui siluet-siluet keimutan yang kala itu masih melekat di wajah kita. Mereka berpikir apa yang belum bisa kita pikirkan saat itu. Mereka berpikir dengan sebutan apa si mungil ini akan dipanggil, dan dengan sebutan apa si mungil selalu disebut dalam setiap lantunan doa. Ada pancaran kehangatan kasih sayang mereka dalam setiap nama kita. Kini saya tau kehangatan kasih sayang itu ada dalam Topan Bayu Kusuma, dan kini saya ingin mengatakan bahwa saya bangga menjadi Angin-angin Bunga! :)

17
Jul
09

Tunggu Pertarungan Selanjutnya!

Hari ini (17 Juli 2009) deadline PR T*A. Waktu menunjukkan sekitar pukul 14.00, dari delapan soal empat soal belum terselesaikan dan satu soal dipastikan selesai dengan cara yang tidak benar. Isu-isunya PR dikumpulkan jam tiga sore di sekre, tapi untuk menghibur diri dan menjaga sikap optimis saya meyakinkan diri deadline-nya jam empat sore dengan alasan sekre tutup jam empat.

Mulailah diri ini bergabung dengan kumpulan orang yang juga sibuk mengerjakan PR di perpustakaan. Dua lembar kertas fotokopian tergeletak di meja, apa isinya? Jawaban PR seseorang yang sudah selesai mengerjakan. Sungguh menggoda untuk menyalinnya dibandingkan harus memeras otak untuk mengerjakan sendiri. Eits.. Ternyata setan mulai mendekat dan berbisik-bisik menggoda. Hei setan, saya sudah pernah mengatakan bahwa saya tidak mau menyalin jawaban orang jadi hentikan saja usahamu itu! Tapi.. Sulit juga menjawab soal-soal PR.. T_T. Saya tetap tidak mau menyerah, masih ada cara halal untuk mengerjakannya. Ada banyak teman yang sudah hampir selesai, buat apa kalau tidak dimanfaatkan :) . Mulailah saya bertanya ke teman bagaimana cara mengerjakannya. Lumayanlah, satu soal yang sebelumnya jawabannya tidak benar sekarang sudah diperbaiki. Membangkitkan kembali keoptimisan.

Detik-detik berlalu, satu per satu teman meninggalkan. Tersisalah saya dengan seorang teman berinisial D. Tak apalah, masih berusaha optimis untuk terus mengerjakan walaupun setan masih terus menjadi penggoda. Dengan mempelajari jawaban teman yang sudah selesai saya coba menemukan jawaban sendiri. Alhamdulillah satu soal kembali terjawab. Tapi satu soal selesai, satu teman saya yang tersisa pun pergi. Tinggallah saya sendiri.

Sendirian juga akhirnya. Eits, tapi ternyata di sudut meja yang lain masih ada kumpulan orang yang tertawa-tawa. Waktunya untuk menghampiri mereka dan bertanya. Mulailah saya bertanya dan hasilnya lumayan satu soal kembali terjawab lagi.

Tinggal satu soal terakhir. Kali ini saya merasa tidak sendiri, ternyata dari tadi setan masih setia menemani dengan perannya sebagai penggoda. Tinggal satu lagi, jangan samapai terjatuh oleh setan! Baca-baca soal, pikir-pikir, mengingat-ingat, dan akhirnya selesai juga! Haha.. Kalah kali ini kau setan! Rasakanlah!

Hati saya tersenyum, tersenyum sangat lebar. Senanga sekali hari ini setan telah takluk. Bangga hati ini telah berhasil menyelesaikan PR dengan cara halal di detik-detik terakhir. Sungguh senang dan bangga, saya sangat senang dan bangga! Hei hei! Tunggu dulu, sesaat kemudian saya baru sadar. Senang dan bangga yang saya rasakan terlalu berlebihan, tidak sepantasnya! Ah, ternyata.. ternyata.. Setan yang saya pikir telah terjatuh diam-diam bangkit kembali, diam-diam dia telah menyisipkan rasa bangga yang berlebihan pada hati ini. Dan setanpun berbalik menjatuhkan diri ini. Ahh..

Baiklah setan, kali ini kau boleh senang karena telah menang. Tapi tunggu pertarungan kita selanjutnya!

16
Jul
09

Laja

Dalam dua hari yang berurutan saya mendapatkan dua kabar duka yang menurut saya mendadak. Kabar duka pertama terjadi ketika saya sedang dalam perjalanan aksi “Solidaritas Muslim Dunia”. Ketika saya sedang di dalam bis tiba-tiba Ibu saya menelepon dan mengatakan paklik saya sudah meninggal dunia. Ini terjadi secara mendadak karena paginya paklik saya masih sempat mengantar anaknya sekolah, pulangnya masih sempat makan ketoprak, bahkan beliau masih sempat bersenda gurau dengan tetangga. Mendengar kabar itu akhirnya saya hanya bisa ikut aksi sampai jam dua siang karena setelah itu harus bergegas ke rumah dan bergabung bersama keluarga yang lain.

Kabar duka kedua terjadi keesokan harinya. Setelah malam sebelumnya saya mendapat kabar gembira karena teman saya berhasil memenangkan pemilihan Abang Jakarta, ternyata pagi harinya saya mendapat kabar bahwa ada seorang teman saya yang lain yang telah dicukupkan hidupnya di dunia. Padahal malam harinya teman saya ini ikut menonton langsung pemilihan Abang None Jakarta.

Memang tidak ada yang pernah tau kapan Yang Maha Kuasa akan mencukupkan waktu kita di dunia. Ketika muda kah? Atau ketika tua? Ketika sedang membuat orang tua tersenyum atau sebaliknya? Ketika kita telah sempat bertobat atau sebelum kita sempat bertobat? Tidak ada yang ingin pergi dari dunia ini dengan meninggalkan keburukan, tapi terkadang emosi lebih berperan daripada kesadaran. Merasa masih punya cukup waktu untuk memperbaiki kesalahan. Menganggap enteng waktu yang terus bergulir dengan sangat yakin bahwa ajal tidak akan segera menjemputnya.

Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini..

10
Jun
09

Biarkan Saya Cemburu

Siapa yang tidak cemburu jika dia yang dicintainya lebih dekat dengan yang lain?! Dan siapa yang tidak cemburu jika dia yang dicintainya lebih mencintai yang lain?! Selama kita masih memiliki jiwa yang normal, rasa cemburu itu pasti akan datang. Apapun bentuk dari ‘dia’ yang menyebabkan kita cemburu. Seorang bayi pun bisa merasa cemburu dengan terus merengek ketika ibunya menimang-nimang anak tetangga, apalagi jika sang ibu tiba-tiba menimang seekor anak kucing, tentu si bayi akan merasa semakin direndahkan (apaan sih.. gak jelas nih..). Dan kita yang telah melewati hidup ini bertahun-tahun (saya rasa yang membaca tulisan ini orang-orang yang sudah ‘berumur’) tentunya memiliki kombinasi linear atau non-linear dari berbagai macam bentuk cinta yang pada akhirnya dapat memicu berbagai macam rasa cemburu. Tidak perlu malu, minimal teman-teman pasti telah sekali merasakan cemburu, betul kan? Saya rasa itu sesuatu yang wajar. Jadi, biarkan saya cemburu.

Berbagai macam rasa cemburu dengan bumbu-bumbunya selalu dapat tercipta. Cemburu tentang seorang Ibu yang sepertinya lebih menyayangi anaknya yang lain (tapi sebenarnya seorang Ibu tidak akan pernah melakukan hal seperti ini), cemburu tentang kesuksesannya yang luar biasa, atau cemburu tentang dia yang pernah memikat hati. Cemburu itu tidak akan pernah diduga-duga kemunculannya, misterius tapi sebenarnya tidak menyeramkan. Cemburu masa lalu, masa kini, ataupun cemburu di masa yang akan datang, semuanya memiliki kemisteriusannya masing-masing. Jadi biarkan saya cemburu.

Tapi sungguh, seharusnya dulu, sekarang, dan kelak di masa depan saya ingin memiliki rasa cemburu yang abadi. Bukan cemburu tentang cinta yang semu, bahkan palsu, tapi cemburu yang abadi, yang akan muncul dari sebuah cinta yang abadi. Dan cinta yang abadi itu tentunya akan muncul dari pemilik cinta itu sendiri.

Ya, cinta abadi ini segalanya tentang Dia. Berkali-kali saya mendeklarasikan cinta kepada-Nya. Namun, berapa kali saya mendeklarasikan rasa cemburu ini pada-Nya? Satu kali, dua kali, tiga kali, atau mungkin hanya nol kali? Ahh, bodoh sekali saya jika satu kali pun tidak pernah mencemburui-Nya. Tidak pernah risau ketika mereka lebih dekat dengan-Nya, tidak pernah gundah ketika mereka lebih giat menunjukkan cinta kepada-Nya, bahkan merasa tenang dengan usaha pas-pasan dalam meraih cinta-Nya. Benarkah telah ada porsi cinta untuk-Nya? Benarkah porsi cinta kepada-Nya ada di posisi pertama? Tapi kenapa tidak pernah ada rasa cemburu? Tapi kenapa cemburu kepadanya lebih besar dari cemburu kepada-Nya? Sungguh memusingkan pertanyaan-pertanyaan ini.

Ya Allah saya ingin mencintai-Mu dengan sunguh, ingin berjalan mendekat kepada-Mu agar Kau berlari kecil mendataingi hamba-Mu ini. Betapa indahnya ya Allah jika cinta dan ridho-Mu ada pada diri ini. Biarkan hati ini bergetar mendengar nama-Mu ya Allah, jangan pernah biarkan hati ini sunyi ketika nama-Mu disebut. Ya Allah, saya ingin mencintai-Mu, dan jika cemburu itu hanya satu, maka biarkanlah saya hanya mencemburui-Mu.

27
Apr
09

KoPas!

Sudah hampir dua tahun saya kuliah di Fasilkom UI. Banyak hal yang sudah saya dapatkan, mata kuliah-mata kuliah yang menarik, teman-teman yang baik dan kurang baik :) , dosen yang baik-baik dan butuh berlatih lagi untuk jadi lebih baik, dan berbagai macam pelajaran moral. Satu pelajaran moral yang cukup menarik di Fasilkom adalah penyalinan jawaban lewat media digital, atau bahasa kerennya ‘kopas’, singkatan dari copy paste. Cukup mengenaskan rasanya melihat mahasiswa-mahasiswa Fasilkom yang notabane-nya sebagai mahasiswa-mahasiswa cerdas ternyata masih senang membudayakan kopas dalam mengerjakan tugas. Memang, tidak semua mahasiswa Fasilkom membudayakan kopas, masih ada mahasiswa-mahasiswa yang bangga dengan kejujurannya.

Tekanan dan godaaan untuk kopas memang cukup besar, tugas yang menumpuk , mendekati deadline, dan ada kawan yang sudah selesai mengerjakan tugas, hmm.. cukup menggoda bukan? Tinggal copy file tugas lewat flash disk lalu beri sedikit perubahan pada file maka selesailah tugas kuliah. Tidak perlu menguras pikiran, membuang waktu lama-lama untuk memahami tugas, dan probabilitas ketahuan mungkin hanya 1 % dengan margin error …… (duh.. duh.. duh.., kuliah apaan nih ya?).

Membingungkan ketika harus menerka apa yang ada dalam pikiran para pengkopas. Apakah mereka bangga memperlihatkan nilai palsu di depan orang tua mereka? Apakah pria-pria pengkopas akan membohongi wanita yang dilamarnya dengan nilai palsu? Ataukan wanita-wanita pengkopas akan membohongi pria yang melamarnya dengan pesona palsu? Dan apakah mereka senang membohongi anak-anak mereka kelak dengan kebanggaan palsu? Saya rasa orang tua, wanita yang dilamar, pria yang melamar, dan anak-anak mereka kelak tidak akan bangga dengan prestasi palsu yang telah mereka sodorkan. Tapi memang seperti itulah, setan selalu menggoda manusia dengan berbagai kenikmatan semu. Dan saya pun terkadang merasakan godaan-godaan itu menyerang, merasakan kehebohan perang di hati ini. Tapi…

Sudahlah setan, hentikan godaan kopas yang kau arahkan kepada saya. Saya masih punya harga diri sebagai seorang muslim. Jangan samakan saya dengan mereka yang sering mengkopas, yang entah masih punya harga diri atau tidak. Tapi saya harap kau segera bertobat setan, biarkan mereka yang kini masih sering meng-kopas bisa merasakan nikmatnya mempunyai harga diri.

Wallahu’alam.

11
Apr
09

Di Jakarta, di Kota Tua

Jakarta hari ini masih sama seperti Jakarta biasanya. Gedung-gedung tinggi yang terkadang tampak angkuh menutupi kesemerawutan perumahan yang padat. Di pinggir-pinggir jalan protokol masih saja berdiri polisi lalu lintas, membuat para pengendara tanpa SIM dag dig dug. Mereka yang menjual kemelasan hidup gigih meminta belas kasihan pemilik mobil-mobil mewah hampir di setiap percabangan jalan dengan lampu merahnya. Apa lagi yang kau suguhkan hari ini Jakarta? Ooo.. Masih ada kemacetan, proyek-proyek yang belum terselesaikan, perkelahian pelajar, dan masih banyak lagi senyum dan sendu di Jakarta.

Hei Kawan, ternyata di balik kondisi yang terlalu biasa didapati di kota-kota besar, masih ada keeksotikan yang hidup di salah satu sudut kota Jakarta. Begitu unik, mungkin seperti seorang nenek yang berdiri di antara ratusan gadis belia dengan berbagai gayanya. Di sinilah lambang perubahan dan perkembangan yang terjadi di Jakarta, di kota tua. Kumpulan bangunan tua yang masih tegak berdiri di antara bangunan-bangunan muda belia. Bangunan-bangunan tua yang dulunya pernah muda dan berjaya juga dengan gayanya.

Di sini, di kota tua, di antara bangunan-bangunan sepuh yang tak selalu tampak rapuh berbagai keunikan telah hidup. Di salah satu sudut taman terlihat berjejer puluhan sepeda tua yang siap untuk disewakan. Sepeda tua dan bangunan tua, tampak serasi bukan? Hei, tapi tunggu dulu! Ternyata di sudut taman yang lain masih ada sepeda lain, bukan sepeda tua, tapi itu adalah sepeda milik mereka yang senang memeragakan berbagai gaya atraktif dengan sepedanya. Akankah menjadi saingan? Sepertinya tidak. Ini masalah gaya, biarkan mereka yang senang dengan keantikan masa lalu puas dengan gayanya dan biarkan juga mereka yang suka dengan gaya kekinian puas dengan gayanya.

Hanya seperti itukah kota tua? Tentu saja tidak. Masih banyak keunikan lain di sini. Masih ada sekelompok orang yang mempertontonkan atraksi yang tampak berbahaya dan berbau mistis. Seperti membungkus seorang anak kecil dalam kain pocong lalu mencabumbuknya atau atraksi mengobarkan api lewat mulut. Di sini ramai orang menyaksikan. Tapi di titik yang lain ada juga keramaian yang tidak kalah hebat. Puluhan orang berdiri berkeliling menyaksikan promosi dari seorang tukang obat, seakan telah keluar kalimat-kalimat sakti dari mulut si tukang obat yang membuat puluhan orang bertahan menyaksikan.

Masih terus mengamati setiap sudut keindahan kota tua, masih saja para muda mudi bergaya di depan kamera layaknya seorang model. Seolah tak ada yang melihat, mereka tanpa malu berganti-ganti gaya di depan kamera. Ya, memang harus diakui suasana di kota tua sungguh memancing keinginan untuk mengabadikannya dalam sebuah gambar, apalagi bagi mereka yang punya obsesi menjadi model atau fotografer. Kota tua memang begitu menarik untuk dikunjungi dengan berbagai keunikan yang tersedia. Nuansa tua yang tidak hanya diisi oleh mereka yang berpenampilan jadul, mereka yang berpenampilan gaul atau berusaha gaul layaknya para artis pun ikut mengunjungi tempat ini.

Hei kawan, coba lihat di sana, di pinggir sebuah bangunan tua ada sesuatu yang menarik! Atau mungkin sedikit tidak biasa. Sekelompok muda mudi tampak sedang menggelar tikar di atas pelataran atau mungkin pantas juga disebut taman kota tua. Tampak sedikit tidak biasa? Ya, memang tampak sedikit tidak biasa. Coba lihat di sekeliling kota tua, mana ada yang menggelar tikar di sini. Hei muda mudi! Apa yang kalian pikirkan? Ini bukan Kebun Raya Bogor di mana banyak orang menggelar tikar untuk berpikinik. Tapi coba tenang dan perhatikan mereka sejenak. Tampaknya mereka orang baik-baik, busana mereka sopan, candaan mereka pun terjaga, dan mereka hari ini juga tampak ceria. Hmm.. Kini mereka duduk di atas tikar yang telah digelar. Sepertinya mereka coba menerapkan etika kesopanan dalam sebuah acara, muda mudi ini tidak bercampur baur dalam satu tikar. Para lelaki duduk mengelompok di sebelah kiri dan para perempuan pun melakukan hal yang sama di sisi sebelah kanan. Mereka masih tampak ceria dengan candaan para lelaki dan begitu juga para perempuan. Suasana yang tidak biasa namun penuh keceriaan. Hei tunggu, satu orang lelaki keluar dari kelompok laki-laki. Dia segera mengambil posisi duduk di depan menghadap ke para lelaki dan perempuan namun masih dalam area sebelah kiri. Apa yang akan dilakukan lelaki ini? Coba diperbesar visualnya, agar terlihat lebih jelas siapa lelaki itu. Dia mengenakan celana dan kemeja hitam. Potongan rambutnya pendek, tubuhnya cukup kurus. Sepertinya dia ingin mengucapkan sesuatu, coba sekali lagi diperbesar! Sekarang tampak jelas wajah itu. Siapa dia? Coba perhatikan bentuk mata, hidung, bibir, dan wajahnya. Ahh.. Ternyata itu saya.. Dan mereka yang ada dihadapannya adalah saudara-saudarinya yang begitu ia cintai karena Allah. “Dimulai aja ya?”

30
Mar
09

Lukisan di Atas Kanvas Kehidupan (1)

Gunung itu begitu tegar berdiri di hamparan kuasa-Nya, kilatan petir dan terpaan angin tak mampu menggoyahkannya. Hanya jika Ia berkehendak ketegaran itu akan runtuh. Saya tidak bisa berdiri setegar gunung, hanya dengan sentuhan kecil cobaan menangislah hati dan mata yang lemah ini. Tapi memang iniliah yang selalu saya inginkan, saya ingin selalu menangis dihadapan-Nya. Karena hanya kepada-Nya lah saya menyembah dan memohon pertolongan.

Perjalanan hidup selalu mengahasilkan lembaran kanvas kehidupan yang kelak akan memenuhi bingkai lukisan kehidupan kita masing-masing. Bingkai itu telah dicipatakan sesuai dengan ketetapan-Nya dan tidak akan mampu diubah lagi. Namun, lukislah lembar kanvas kehidupanmu dengan keindahan yang telah disediakan oleh Ilahi.

Dalam hukum Newton dikatakan jika ada aksi maka ada reaksi. Jadi, maksud dari tulisan ini adalah memberi reaksi atas aksi yang diberikan oleh Fajar. Saya mau coba berbagi beberapa coretan yang telah saya goreskan di lembar kanvas kehidupan saya. Semoga bermanfaat.

Nasi Padang
Saya memang bukan orang Padang dan mungkin tidak ada sama sekali darah Padang yang mengalir di tubuh saya. Jika ada yang bertanya kenapa coretan pertama di kanvas kehidupan saya nasi padang, jawabannya adalah karena waktu mengandung saya, ibu saya mengidam nasi padang (jawaban yang terlalu simpel ya?). Walaupun saya belum yakin ada kaitan antara orang hamil dengan mengidam sesuatu, tapi kenyataannya inilah yang terjadi pada Ibu saya. Hmm.. Tidak banyak hal yang bisa diambil dari poin ini, tapi saya ingin memberitahu bahwa kelak saya pasti bisa memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar nasi padang untuk Ibu saya, tentu dengan Bapak saya juga!

Katanya Saya Bandel
Ini tentang masa kecil saya, saya pun sebenarnya tidak sepenuhnya ingat, orang tua sayalah yang mengingatkan saya tentang kebandelan-kebandelan saya di waktu kecil. Karena kebandelan saya, Bapak saya pun punya berbagai cara kreatif untuk menangani anaknya yang satu ini. Yang jelas, yang paling sering diceritakan oleh orang tua saya adalah saya paling jago kalau nangis. Katanya sih sampai saingan sama tetangga saya (dulu saya kalo nangis sampe teriak-teriak, percaya ga?). Mungkin ini sudah menjadi hal yang lumrah untuk kegiatan saya sehari-hari dulu. Tidak hanya sekedar menangis sambil menjerit, biasanya kalau ngambek saya berlari-lari keliling rumah, menjungkir balikkan kursi-kursi di rumah (intinya ingin membuat kondisi rumah porak-poranda), dan pernah juga membuang panci Ibu saya ke empang dekat rumah. Tentunya Bapak saya tidak akan membiarkan anaknya menjadi brutal. Untuk menangani kebrutalan saya pun Bapak saya mengambil berbagai macam tindakan, mulai omelan biasa, mengunci saya di luar rumah di tengah malam hingga saya menggedor-gedor rumah tetangga saya (hehehe..), memasukkan ke dalam lemari, sampai menceburkan saya ke bak mandi dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas secara berulang-ulang (jangan membayangkannya terlalu sadis, karena ini tidak sesadis yang Anda bayangkan kok..). Ya, itulah kebandelan saya dan kekreatifan Bapak saya. Tapi, walaupun saya dulu bandel, sekarang saya bisa kuliah di UI Pak!

Anak Baik-baik
Saya di SD menjadi siswa baik-baik, bahkan mungkin anak yang sangat baik. Jika anak-anak Jakarta bicaranya ‘lo-gw’ maka saya setia dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, yaitu ‘saya-kamu’. Sebenarnya ini poin kecil dari kehidupan SD saya, poin utama dari kehidupan SD saya, dan mungkin poin yang akan selalu terkenang adalah saya menjadi murid yang selalu disanjung, dipuji, dan diperlakukan berbeda oleh guru-guru SD saya. Mau tau alasannya? (mau gak mau harus mau..) Alhamdulillah, alasannya adalah karena waktu SD saya dapat mempertahankan prestasi untuk selalu menjadi yang terbaik saat penerimaan rapot dari awal masuk hingga lulus. Bukan itu saja, kalau ada loketa (Lomba Keterampilan Agama) saya biasanya dijadikan pemimpin kelompok. Pernah suatu kali saya terlibat keributan di dalam kelas, yaitu lempar-lemparan lap kotor. Siapa yang mendapatkan lap kotor tersebut dia akan melemparkannya ke teman yang lain. Ketika guru sudah masuk kelas, semua yang tadi terlibat lempar-lemparan lap kotor pun dipanggil oleh guru tersebut. Satu per satu diinterogasi kemudian dihukum di depan kelas. Namun, apa yang terjadi ketika saya diinterogasi? Ketika saya ditanya, saya hanya menjawab dengan jawaban singkat, “tadi ngebales” (maksudnya ngebales lemparan lap dari teman). Masalah seketika itu selesai dan saya dipersilakan duduk kembali ke tempat duduk saya. Terkesan tidak adil ya? Tapi memang seperti itulah guru-guru SD memperlakukan saya. :-)

Sedikit saja dulu ceritanya, sepertinya tulisannya sudah kepanjangan, dan yang baca sepertinya juga sudah capek, betul kan? :-) Buat Fajar yang telah memberikan aksi, sisanya dilanjutin nanti-nanti ya..