Malam ini sebenarnya niat pulang jam setengah 7 biar kebagian sholat isya jama’ah di mushola dekat rumah. Tapi ternyata baru bisa balik dari kampus jam 7 kurang 15, ada keperluan dulu yang menunda pulang. Perjalanan ke rumah sekitar 20 menit jadi saya sudah yakin pasti tidak sempat sholat isya berjama’ah di mushola dekat rumah. Di tengah perjalanan pun adzan berkumandang, tepatnya ketika saya sedang melewati komplek tentara. Ya sudahlah saya berhenti dulu di masjid biar bisa sholat berjama’ah.
Masjid yang satu ini hampir tiap pagi dan sore/malam saya lewati tapi saya tidak pernah terlalu memperhatikan nama masjid ini, yang pasti masjid ini ada di komplek tentara dan yang sholat pun banyak tentara. Malam ini pun suasana masjid cukup unik, biasanya jama’ah masjid identik dengan pakaian putih-putih tapi malam ini nuansa loreng mewarnai tiap sudut religi masjid. Jadilah saya sholat di antara para tentara, di antara nuansa loreng yang tak biasa, dan di antara rambut-rambut cepak yang menggertak.
Selesai sholat imam melakukan dzikir, semua tentara masih terduduk, tidak ada yang beranjak pergi. Mungkin seperti inilah tentara, tidak akan bergerak sebelum ada intruksi. Di tengah lantunan dzikir imam saya iseng bertanya ke salah seorang tentara.
Saya: “Mas, ini pada abis latihan ya?”
Tentara: “Iya”
Saya: “Tiap waktu sholat istirahat?”
Tentara: “Iya, latihan dari pagi sampe jam 11 terus istirahat dzuhur, latihan lagi sampe jam 4 terus sholat ashar..”
Saya: “Wuihh, keren.. Tiap hari kayak gini Mas?”
Tentara: “Iya, kalo lagi latihan di sini sholatnya selalu di masjid tapi kalo latihan di luar ya sholatnya di luar..”
Obrolan terus berlanjut sampai lantunan dzikir imam terhenti dan para tentara pun beranjak pergi dari tempatnya menuju halaman masjid. Dari teras masjid saya bisa melihat para tentara berbaris di halaman. Satu per satu baris kemudian pergi meninggalkan masjid dengan teratur, suasana religi masjid pun kembali sepi, menunggu nuansa loreng hadir kemabali di kumandang adzan berikutnya.
Begitulah tentara. Jika ditanya jama’ah mana yang paling disiplin saat ini, mungkin jawabannya jama’ah tentara. Jika ditanya jama’ah mana yang paling taat pada pemimpin saat ini, mungkin jawabannya juga tentara. Dan jika ditanya jama’ah mana yang paling bangga dengan identitasnya di manapun ia berada, mungkin jawabannya juga jama’ah tentara.
Saya cukup salut dengan jadwal latihan yang diterapkan pada jama’ah tentara yang satu ini. Setiap panggilan ilahi berkumandang maka saat itu juga semua tentara berhenti latihan dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Tidak hanya pada waktu-waktu sholat tertentu, tapi ini dilakukan pada setiap waktu sholat, di setiap harinya. Subhanallah… Memang sudah selayaknya setiap jadwal yang kita buat haruslah menyesuaikan dengan jadwal panggilan yang telah ditetapkan Ilahi, bukan kita memaksa-Nya untuk menyesuaikan panggilan-Nya dengan jadwal kita, bukan juga kita selalu memakasa-Nya untuk menunggu kita memenuhi panggilan-Nya setelah usai seluruh aktifitas dunia kita. Hmm.. Kapan ya setiap aktifitas kita bisa seideal ini?

Recent Comments