Baru saja menyelesaikan beberapa lembar al Qur’an di masjid kampus ini, Masjid Ukhuwah Islamiyah, kampus UI Depok. Kewajiban di kampus hari ini sudah selesai, waktu juga sudah menunjukkan pukul 18.50, segera bergegas pulang agar bisa menyempatkan sholat Isya di mushola dekat rumah. Momen-momen untuk sholat berjama’ah di lingkungan rumah memang menjadi momen yang penting, paling tidak di sini bisa jadi waktu bagi saya untuk menampakkan wajah ke masyarakat RT 002 RW 09 karena kalau siang hari pasti jarang di rumah.
Satu kaos kaki sudah terpasangkan di satu kaki sampai kemudian sebuah suara menegur, “Dek, besok ada Aa Gym di sini?”
“Iya Pak”, jawab saya singkat. Tapi sepertinya Bapak ini tidak ingin hanya sekedar bertanya.
Benar saja, pertanyaan-pertanyaan berikutnya muncul, perbincangan terus berlanjut. Sepasang sepatu yang sudah terpasangkan rapi di kaki tak jadi gegas melangkah, kini hanya duduk mendengarkan cerita si Bapak. Saya pikir ini bentuk rasa hormat, dan sepertinya Bapak ini sedang butuh teman berbincang jadi saya luangkan waktu saya untuk berbincang dengan si Bapak.
“Tinggal di mana Dek?”
“Saya tinggal di daerah Cijantung Pak”, mudah saja saya jawab walaupun sebenarnya rumah saya di Kalisari, tapi saya lebih sering menjawab di daerah Cijantung karena kalau dibilang Kalisari biasanya orang tidak tau.
“Di sebelah mananya?”, tanya si Bapak lagi.
“Di deket SMA 98”, jawab saya singkat sambil terus menunjukkan wajah ramah kepada si Bapak.
“Oo.. di Kelurahan Baru ya, eh itu daerah Kalisari”, si Bapak ternyata langsung menimpali.
Ternyata Bapak ini tau daerah Kalisari, Luar Biasa! Penasaran saya, bertanya saja saya sama si Bapak, “Emang Bapak tinggalnya di mana Pak?”
“Saya tinggal di Bandung”, jawab si Bapak.
Nah lo, si Bapak tinggal di Bandung tapi bisa tau daerah Kalisari. Tapi setelah ditanyai lebih lanjut ternyata Bapak ini dulunya sekolah di SMA 39 (ada di daerah Kopasus, Cijantung) dan rumahnya pun di sekitar situ. Pantas saja si Bapak tau.
Perbincangan pun masih berlanjut dan saya pun jadi terlanjur tertarik untuk berbincang dengan si Bapak. Kenapa bisa Bapak ini ada di Depok padahal Rumahnya di Bandung? Ternyata Bapak ini baru saja bekerja di Vila Kalisari (perumahan di sekitar Kalisari), tapi lebih tepatnya baru saja ditipu orang untuk bekerja di Vila Kalisari.
“Hmm..”, saya sedikit berekspresi empati mendengar penuturan si Bapak yang baru saja ditipu. Sebenarnya ekspresinya bercampur bingung karena tidak terlalu paham dengan cerita si Bapak, tapi untuk menghormati apa yang sudah diceritakan si Bapak jadi saya tidak bertanya ulang mengenai ceritanya.
Di luar dugaan Bapak ini ternyata bisa membaca raut wajah saya hingga kemudian bertanya, “Ngerti gak ceritanya?”
Hehe.., dalam hati saya cuma bisa cengar-cengir, ternyata wajah saya gak bisa bohong.
Si Bapak pun menceritakan kembali kisahnya tanpa saya minta. Sudah satu pekan ini beliau di Jakarta, ada seorang temannya yang menawari pekerjaan untuk merenovasi rumah di daerah Vila Kalisari, katanya akan dibayar 14 juta rupiah tapi temannya ini minta bagian 3 juta rupiah. Jadilah si Bapak yang bekerja dalam tim bersama 7 orang lainnya menerima pekerjaan ini. Dan di awal si Bapak dan timnya patungan 3 juta rupiah untuk diberikan kepada temannya yang telah memberikan pekerjaan dengan keyakinan setelah pekerjaan selesai mereka akan mendapatkan uang sebesar 14 juta rupiah. Hari pertama sampai ketiga temannya si Bapak yang menawari pekerjaan masih memantau pekerjaan si Bapak tapi pada hari selanjutnya sampai hari ketujuh temannya sudah tidak pernah datang. Dan di hari ketujuh inilah semuanya terbongkar. Ketika semua cat rumah sudah dikerok, siap-siap direnovasi, datanglah seseorang yang marah-marah kepada si Bapak, ternyata orang yang marah-marah ini pemiliki asli rumah ini. Dia tidak pernah merasa meminta orang untuk merenovasi rumahnya bahkan rumah ini sebenarnya mau dijual tapi sekarang kondisinya malah mengenaskan karena cat dindingnya sudah dikelotok. Bingunglah si Bapak dan mulai sadar bahwa ternyata dirinya sudah ditipu oleh temannya yang menawari pekerjaan. 14 juta tidak jadi didapat dan 3 juta pun telah melayang. Jadilah si Bapak dan timnya luntang lantung di Depok dengan uang yang semakin menipis.
Sampai pada si Bapak selesai menceritakan ini dan menunjukkan dirinya sekarang hanya punya uang 7 ribu rupiah yang sangat tidak mencukupi untuk pulang ke Bandung, ditambah dirinya mengidap pembengkakkan jantung yang sewaktu-waktu bisa kambuh, bahkan sampai ditunjukkan kepada saya obat-obatannya, saya khawatir sebenarnya saya yang hendak ditipu oleh si Bapak. Maklum saja, di Jakarta dan Depok banyak kasus orang yang menghampiri orang lain dengan menceritakan kemelasan hidupnya kemudian meminta uang untuk menambal kemelasan hidupnya tadi. Dan saya sudah pernah menghadapi kasus ini beberapa kali, bisa lihat tulisan saya yang berjudul “Sudah Terkikiskah Rasa Saling Percaya?”.
Perbincangan masih terus berlanjut, si Bapak mulai menceritakan kehidupannya, dan hati saya mulai bimbang apakah setelah ini si Bapak akan meminta kemurahan hati saya atau tidak. Ya, bimbang, karena kalau saya mau menyamakan si Bapak dengan “penipu-penipu” sebelumnya, penampilannya sangat beda, pakaiannya rapi dan tas yang dikenakannya pun bukan tas murahan. Gaya bicaranya pun tidak seperti orang yang sedang menunjukkan kemelasan hidup, tidak disedih-sedihkan atau dimuram-muramkan, si Bapak bercerita dengan sesekali tersenyum dan menertawai kejadian yang menimpa hidupnya, santai sekali si Bapak ini bercerita. Saya pun hanya bisa menjaga husnudzon saya pada si Bapak.
Nyaman sekali sepertinya si Bapak menceritakan hidupnya kepada saya. Mulai dari kuliahnya dahulu sampai dengan keluarganya sekarang. Ternyata si Bapak dulu kuliah di Universitas Parahiyangan Bandung, Jurusan Teologi. Awalnya saya tidak mengerti teologi belajar apa, saya pikir mirip dengan geologi tapi ternyata berbeda jauh. Buat yang belum tau, teologi itu jurusan yang mempelajari perbandingan agama, dan karena Universitas Parahiyangan adalah universitas Katolik maka agama yang dibandingkan adalah agama Katolik dengan agama lainnya. Mengetahui teologi adalah jurusan yang mempelajari hal seperti itu, saya kembali bingung. Saya bertemu dengan orang yang sedang beristirahat di masjid yang kemungkinan besar adalah seorang muslim tapi ternyata dahulu kuliah di jurusan teologi. Tanpa diminta lagi si Bapak pun memberitahu kalau dirinya seorang mualaf sejak tahun 2003 karena kuliah teologinya ternyata membawa beliau untuk mempelajari Islam lebih jauh dan kemudian memutuskan untuk mengislamkan dirinya. Subhanallah, hidayah Allah memang bisa datang kepada siapapun.
Begitulah cerita terus berlanjut. Bercerita juga si Bapak mengenai awal mula beliau terkena pembengkakkan jantung kemudian ditolong oleh Yayasan Percikan Iman yang dikelola oleh Ust. Aam Amirudin di Bandung, bahkan sampai dibiayai kehidupan diri dan keluarganya selama 8 bulan. Bercerita juga si Bapak mengenai 3 orang anaknya, atau tentang bagaimana kisah perjalanan kehidupan si Bapak dengan istrinya.
Beberapa menit lagi adzan Isya akan berkumandang, sudah banyak cerita yang diungkapkan si Bapak, bahkan sampai bajunya yang rangkap 4 dan celananya yang rangkap 2 juga dia ceritakan, pakaian rangkap itu imbas dari pembengkakan jantungnya. Pada titik ini ternyata kewaspadaan saya belum terbukti karena si Bapak sama sekali tidak meminta kemurahan hati saya untuk memberinya beberapa lembar rupiah, bahkan sampai adzan berkumandang pun tidak ada ucapan yang menyinggung tentang itu. Kami pun bergegas sholat Isya.
Lepas dari perbincangan ini saya mulai berpikir untuk memberi bekal kepada si Bapak untuk pulang ke Bandung walau si Bapak tidak pernah meminta. Coba cek saku celana sebelah kanan ternyata ada recehan, coba cek dompet, ternyata tebalnya dompet saya hanya diisi oleh berbagai macam jenis kartu, tidak ada sepersen uang pun yang berada di dompet. Tinggal satu sumber uang saya, di saku celana sebelah kiri masih ada amplop pemberian waktu mengisi materi di Pesantern Kilat SMP As Salam. Saya tau di dalam amplop itu masih ada uangnya, tapi… sepertinya terlalu besar jumlahnya. Apa baiknya uangnya dipecah dulu? Ditukarkan dengan beberapa teman yang masih ada di MUI? Saya rogoh saku celana saya dan saya ambil amplopnya. Ahh.. Ternyata amplopnya dilem, sepertinya terlalu bodoh kalau untuk berinfaq saya harus mensyaratkannya dengan berbagai macam hal aneh, sampai harus mengupas lem yang ada di amplop, mencari-cari orang yang mau ditukarkan uangnya, jika seperti ini niatnya keburu berubah. Ya, mungkin ini cara unik dari Allah untuk ‘memaksa’ hambanya beramal lebih, dengan mengosongkan dompet, menyisakan receh di saku celana sebelah kanan, dan hanya menyisakan sebuah amplop di saku celana yang lainnya.
Bismillah. Saya cari posisi si Bapak, beliau sudah berdiri dan bersiap beranjak pergi, saya pun segera menghampirinya, sesaat kemudian menegurnya dari belakang, sebagaimana di awal si Bapak menegur saya ketika sedang mengenakan sepatu. Tak banyak bicara, amplop pun kini berpindah tangan.
“Semoga Allah membalasnya Dek..”
Aamiin, dalam hati saya berujar dan tersenyum.
“Nama adek siapa?”, tanya si Bapak sejenak melanjutkkan.
“Topan Pak..”
Hehe.. Ternyata kebiasaan yang satu ini belum berubah, berbincang panjang dengan orang asing tapi lupa memulainya dengan perkenalan hingga sampai akhir pun saya tidak tau nama si Bapak, padahal di buku “Bagaimana Menyentuh Hati” mengingat nama orang dalam sebuah perkenalan adalah hal yang penting. Mudah-mudah lain kali bisa memulainya denga perkenalan.
Semoga ada hikmah yang bisa diambil dari cerita ini.
*redaksi perbincangan tidak 100% tepat dengan aslinya
Recent Comments